Jumat, 21 November 2025

Ayu Fitria Lu'lu'il M

 CUPANG BIRU DI AQUARIUM 

Hari itu temanku yang biasanya menjahiliku tiba tiba memberiku sebuah benda. Tak lain dan tak bukan adalah seekor ikan cupang yang ia beli di penjual cupang depan sekolah. Warnanya bewarna merah kebiruan dengan sirip yang indah, siripnya bergerak lembut seperti kain sutra yang menari. Aku memandangi ikan itu lama sekali. Warnanya cantik, seperti memancarkan cahaya jika terkena sinar matahari.

Aku berterima kasih kepada temanku dan dia langsung pergi untuk pulang ke rumahnya.  Aku membawa pulang Ikan itu ke rumah dan ku tunjukkan kepada ayahku dan ibuku. Aku mulai belajar merawat nya dari ayah. Malamnya, Ayah mengajariku cara memberi makan. “Jangan banyak-banyak, nanti dia sakit,” katanya. Aku mengangguk, meski di dalam hati aku yakin bisa melakukannya. Ayah berkata namanya Cupang Halfmoon, jenis yang harus dirawat dengan hati-hati. Saat itu, aku merasa seperti mendapat tanggung jawab besar, meskipun itu adalah ikan pemberian temanku.

Aku mulai belajar merawat nya dengan baik ku beri makan dan mengganti airnya setiap 2 kali sehari dan menyempatkan waktu mengamati pergerakannya. Perlahan, cupang biruku kembali aktif, berputar-putar seakan senang. Tapi suatu sore aku ingin mengganti airnya tapi entah kenapa pergerakan ikan cupang ku tidak seperti biasanya, doa menggeliat tak mau dipindah kan dari tempat nya. Dan aku bingung tidak ada ayah di rumah yang biasanya membantu ku untuk membersihkan air ikan. Alhasil ikan cupang ku masuk ke dalam saluran pembuangan. Aku berteriak karena ikan ku hanyut ke dalam saluran pembuangan, aku menangis tak tahu bagaimana cara mengambil nya.

Ayahku pulang bersama dengan ibuku dan aku langsung bicara dengan ayahku tentang ikan ku yang hanyut ke dalam saluran pembuangan. Ayah ku yang langsung paham lalu menyuruh ku untuk menyiram saluran pembuangan dengan air. Ayahku kemudian membuka saluran pembuangan air dan menunggu, entah apa yang dilakukan ayahku tapi aku di suruh untuk tetap menyiram air. Dan akhirnya ayahku menemukan seekor ikan, itu cupang biru ku aku senang dia masih hidup dan bernafas aku langsung menatap nya dengan senang.

Ayahku memasukkan nya ke dalam aquarium yang dia tempati sebelum nya, dia berenang kesana kemari. Saat membantu Ayah mengganti air, aku merasa sangat bersalah. Aku baru sadar, merawat makhluk hidup itu sangat tidak mudah tapi aku berusaha untuk memahami apa yang mereka butuhkan.Cupang biru itu mungkin kecil, tapi ia mengajarkanku cara merawat dengan sungguh-sungguh.

Almira arrulia

                   Study Tour ke Jogja

Minggu malam itu, suasana sekolah yang biasanya sepi mendadak ramai oleh suara tawa dan koper yang saling beradu. Kami berkumpul sejak pukul 22.00, menunggu bis besar berwarna biru yang akan membawa kami menuju Jogja. Lampu-lampu halaman sekolah terasa lebih hangat dari biasanya, mungkin karena semangat kami yang tak sabar ingin segera berangkat.

Begitu bis datang, semua langsung berebut memilih tempat duduk terbaik—biasanya yang dekat jendela atau paling belakang. Setelah doa bersama, bis perlahan melaju menembus gelapnya malam. Di dalam, beberapa teman sudah mulai memutar lagu, ada yang mengobrol, ada juga yang langsung tertidur dengan kepala nyaris menempel pada kaca.

Perjalanan yang panjang itu terasa cepat karena rasa antusias kami. Tepat pukul 03.30 dini hari, akhirnya kami tiba di tempat wisata pertama di Jogja. Udara pagi masih sangat dingin, tapi justru membuat kami merasa lebih segar. Sambil menunggu matahari terbit, kami berfoto bersama dengan latar langit gelap yang perlahan berubah jingga.

Setelah itu, kami dibawa ke tempat makan untuk sarapan pagi. Nasi hangat dan teh manis yang mengepul rasanya berbeda ketika disantap bersama teman-teman sambil bercanda—lebih nikmat, lebih akrab.

Destinasi berikutnya adalah Museum Sisa Hartaku, museum yang bercerita tentang dahsyatnya letusan Merapi. Di dalamnya, kami melihat sisa-sisa barang yang hangus terbakar, sepeda motor yang tinggal rangka, hingga jam yang berhenti tepat saat bencana terjadi. Suasana menjadi hening, membuat kami sadar betapa kuat dan tabahnya masyarakat Jogja.

Menjelang sore, kami menuju hotel untuk beristirahat. Setelah mandi dan berganti pakaian, malamnya kami diajak menonton pagelaran Wayang Rama Shinta. Lampu panggung, musik gamelan, dan gerakan lembut penarinya menciptakan suasana magis. Kami duduk dengan mata berbinar-binar, terpesona oleh keindahan budaya yang selama ini hanya kami lihat dari buku.

Keesokan harinya, kami mengunjungi Candi Prambanan. Candi megah itu berdiri dengan gagah seakan menyambut kami. Kami berkeliling, naik ke beberapa bagian candi, dan tak lupa berfoto sebanyak mungkin. Waktu berjalan cepat hingga jam menunjukkan pukul 14.00, menandakan kami harus melanjutkan perjalanan.

Sore harinya, kami menuju Malioboro, tempat yang selalu penuh warna. Lampu-lampu toko dan suara pedagang yang menawarkan dagangannya menciptakan suasana khas Jogja yang tak pernah membosankan. Kami berburu oleh-oleh: baju batik, gelang kayu, bakpia, hingga gantungan kunci. Tawa kami pecah setiap kali ada teman yang menawar harga terlalu murah dan ditegur halus oleh pedagang.

Hingga jam 8 malam, kami masih sibuk berjalan dan menikmati suasana. Namun pada akhirnya, semua harus selesai. Kami kembali ke bis dengan tangan penuh kantong belanja dan wajah yang letih tapi bahagia.

Pagi buta sekitar pukul 05.00, kami tiba kembali di sekolah. Mata masih terasa berat, tapi hati kami justru hangat. Study tour ke Jogja mungkin hanya dua hari, namun kenangan yang kami bawa pulang jauh lebih dari itu—tawa, kebersamaan, dan cerita yang akan kami ingat sepanjang hidup.


M ANWAR ARIF

⚽ Di Balik Tendangan Terakhir
Warna di mata Anwar bukan jingga yang lembut, melainkan merah menyala yang berpadu dengan debu beterbangan dari tanah lapang yang becek. Di tangannya, bola plastik merek Puma palsu terasa seperti harta karun.

"Ayo, War! Tendang lagi!" teriak Rian, temannya, dari mulut gawang yang hanya berpalang sandal jepit.

Anwar menarik napas, kakinya yang kurus sudah mati rasa, tetapi adrenalin masa kecil menolaknya untuk berhenti. Ia menggiring bola melewati tiang listrik yang mereka jadikan penanda tengah lapangan, lalu dengan sekuat tenaga, ia menendang.

GOOOLLLL!!!

Mereka berteriak kegirangan, suara mereka beradu dengan azan Magrib yang mulai bersahutan. Saat itulah, mata Anwar menangkap bayangan yang paling ia kenali dan takuti di pinggir lapangan: Ibu.

Ibu, dengan daster batik dan tatapan mata yang tak pernah berbohong, berdiri tegak di samping motor butut Ayah. Wajahnya tidak marah, hanya lelah.

"Anwar," panggilnya, suaranya pelan tapi tegas, "Sudah Magrib. Ayo pulang."

Anwar segera menyambar kausnya yang kotor dan berlari menghampiri. Sepanjang jalan pulang, hanya ada keheningan, ditemani bunyi mesin motor yang menderu pelat.

Setibanya di rumah, rutinitas dimulai: mandi, salat, dan makan malam. Di meja makan, Ayah hanya diam, tetapi tatapannya juga berbeda malam itu.

Setelah piring dibersihkan, Ibu menarik Anwar ke ruang tengah.

"Nak," ujar Ibu sambil memegang kedua tangan Anwar, matanya memancarkan kesedihan. "Ibu tahu kamu suka sekali main bola. Tapi beberapa hari ini, Ibu lihat teman-temanmu... mereka merokok. Mereka bicara kasar. Bahkan, yang kemarin sore Ibu lihat, mereka sempat mengganggu anak perempuan di warung."

Jantung Anwar mencelos. Ia tahu apa yang dimaksud Ibu. Beberapa temannya memang mulai mencoba hal-hal baru, dan terkadang, Anwar hanya berdiri di sana, ikut tertawa, takut disebut pengecut.

"Ibu dan Ayah sayang sekali sama kamu, Nak. Kami ingin kamu jadi anak yang baik, yang punya ilmu agama, dan yang tahu mana yang benar dan salah," lanjut Ibu.

Ia mengambil napas panjang. "Besok, kamu akan berangkat ke Pesantren PBNQ."

Anwar terperangah. "Pesantren, Bu? Tapi... bolaku?"

Air mata Ibu menetes. "Di sana ada lapangan yang lebih baik, Nak. Ada teman-teman yang akan membimbingmu salat, bukan mengajakmu merokok. Di sana, kamu akan belajar menjadi pemimpin yang sejati, bukan hanya jagoan di lapangan becek."

Anwar menunduk. Ia merasa perutnya kosong. Ia membayangkan bau karpet mushola yang apek dan jam belajar yang panjang, bukan aroma tanah yang baru disiram air hujan dan keseruan operan bola.

"Ibu tidak mau kamu terjerumus ke pergaulan yang salah, Nak," bisik Ibu. "Dunia di luar sana semakin berat. Kami ingin kamu punya bekal, punya pagar, sebelum kamu kembali menghadapinya."

Malam itu, Anwar memeluk erat bolanya. Ia menatap ke luar jendela, melihat gelapnya malam. Ia tahu, masa-masa di lapangan becek, berlari tanpa beban, akan segera berakhir.

Keesokan harinya, saat mobil Ayah sudah siap berangkat, Anwar memandang rumahnya. Ayah memasukkan ransel berisi sarung, kopiah, dan beberapa helai baju ke bagasi.

Tiba-tiba, Ibu datang dengan sepotong kertas lusuh. Itu adalah gambar yang Anwar buat saat TK: sebuah gambar dirinya yang sedang menendang bola ke gawang raksasa.

"Simpan ini, Nak," kata Ibu, suaranya serak. "Ingat, mimpi kamu tetap di sana. Tapi untuk menggapainya, kamu butuh kaki yang kuat, dan juga hati yang kuat."

Anwar mengangguk. Ia memeluk Ibu erat-erat, mencium tangan Ayah, lalu masuk ke dalam mobil.

Saat mobil bergerak meninggalkan jalan desa, Anwar memandang ke belakang. Lapangan becek itu terlihat kosong. Ia tahu, langkahnya menuju Pesantren PBNQ bukanlah akhir dari mimpinya, melainkan tendangan awal menuju masa depan yang lebih baik—sebuah tendangan yang diatur oleh cinta dan doa orang tuanya. Ia siap.

Kelompok 2

Anggota kelompok:
  • Dirra ghaziayah
  • Thuba hissa
  • Fajar Dwi bakti
  • Reyhan hobby
  • Almira arullia Balqis
Susu Kane

Susu Kane kini menjadi salah satu tempat minuman kekinian yang cukup menarik perhatian masyarakat sekitar Jalan Ronggolawe. Berada tepat di sebelah Pondok Pesantren Al Hasani, lokasi toko ini sangat strategis dan mudah dijangkau oleh siapa pun yang melintas di area tersebut. Setiap hari, terutama pada jam-jam sibuk, toko ini tampak ramai oleh para pelanggan yang ingin menikmati minuman segar.

Toko minuman ini menyediakan beberapa varian rasa favorit, yaitu coklat, tiramisu, dan avocado, Setiap rasa memiliki karakter berbeda, coklat yang manis dan kuat, tiramisu yang creamy, serta avocado yang lembut dan segar. Kombinasi rasa tersebut membuat pelanggan bebas memilih sesuai selera mereka.

Salah satu alasan Susu Kane Iki cepat populer adalah karena harganya yang sangat terjangkau, mulai dari 10 ribu hingga 12 ribu rupiah. Dengan harga tersebut, pelanggan bisa mendapatkan minuman dengan rasa yang enak, porsi yang pas, serta kualitas yang cukup baik, sehingga cocok bagi semua kalangan, terutama pelajar.

Tidak heran jika Susu Kane Iki sering menjadi pilihan para siswa-siswi MA Al Ma’arif yang berada tidak jauh dari lokasi tersebut. Selain itu, banyak juga santriwati Pondok Pesantren Al Hasani yang mampir untuk membeli minuman setelah pulang sekolah. Toko ini menjadi tempat yang nyaman untuk singgah sejenak sebelum mereka kembali ke aktivitas masing-masing.

Beberapa pelanggan menilai bahwa Susu Kane Iki bukan hanya menawarkan rasa yang lezat, tetapi juga pelayanan yang ramah dan cepat. Hal inilah yang membuat banyak orang betah dan sering kembali lagi. Semakin hari, jumlah pengunjung terus meningkat, menandakan bahwa keberadaan Susu Kane Iki benar-benar diterima di lingkungan sekitar.

Dengan citarasa khas, harga ramah di kantong, dan lokasi yang strategis, Susu Kane Iki berhasil menjadi salah satu minuman favorit di kalangan pelajar dan warga sekitar Jalan Ronggolawe. Toko ini diperkirakan akan terus berkembang dan semakin dikenal oleh masyarakat yang mencari minuman segar dengan kualitas baik.

---

Amelia silva putri

   Langit Kecil di Atas Pelataran MTs Almaarif


Di pelataran MTs Almaarif yang selalu dipenuhi cahaya pagi, tiga sahabat—Naila, Rafi, dan Hadi—menghabiskan hari-hari mereka seperti meniti garis tipis antara tawa dan pelajaran hidup. Mereka bukan kelompok paling populer, bukan pula yang paling menonjol. Namun, persahabatan mereka adalah ruang kecil yang membuat dunia terasa lebih jernih.

Setiap pagi, Naila selalu datang paling awal. Ia suka memandangi langit yang perlahan berubah warna, seolah sedang menata pikirannya sendiri. Rafi datang dengan langkah tergesa dan cerita yang meluap-luap, sementara Hadi muncul paling akhir dengan tatapan tenang yang sering membuat dua sahabatnya merasa seimbang.

Mereka bertiga percaya bahwa persahabatan adalah tempat pulang, meski kadang disesaki perbedaan.

Hari itu, sebuah konflik kecil pecah—yang kelak mereka sadari bukan sekadar masalah, tapi cermin. Semua berawal ketika kelompok kelas harus menentukan ketua proyek pameran seni. Rafi, yang terkenal kreatif, ingin memimpin. Namun Hadi, yang lebih terstruktur, merasa ia yang paling tepat. Naila, yang biasanya jadi penengah, justru bingung karena keduanya sama-sama memiliki alasan kuat.

Perdebatan yang awalnya ringan berubah menjadi pertengkaran yang membuat suasana kelas mengeras seperti udara sebelum hujan.

“Aku yang paling sering buat konsep! Logis kalau aku yang memimpin!” kata Rafi dengan nada meninggi.

“Dan siapa yang selama ini memastikan konsepmu berjalan? Kau tahu tanpa perencanaan, semuanya berantakan,” balas Hadi, lebih tenang namun jelas terluka.

Naila hanya terdiam, merasakan dadanya sesak. Untuk pertama kalinya, dua sahabatnya berdiri saling membelakangi.

Hari-hari berikutnya terasa berbeda. Mereka masih berada di ruang yang sama, namun seperti menjadi tiga titik di garis yang tak lagi saling terhubung. Naila mencoba mendekat, tetapi kata-kata seringkali gagal menemukan tempatnya.

Hingga suatu sore, hujan turun deras ketika bel pulang berbunyi. Mereka berteduh di pelataran yang sama—tempat di mana persahabatan mereka dulu tumbuh. Sunyi hanya diisi suara rintik.

Naila akhirnya berkata, “Kalian tahu… persahabatan bukan soal siapa yang menang, tapi siapa yang bertahan.”

Rafi menunduk. “Aku cuma… ingin diakui.”

Hadi menatap ke sisi lain. “Dan aku cuma ingin semuanya berjalan baik.”

Kalimat-kalimat itu sederhana, tapi terasa seperoti membuka pintu yang lama tertutup.

Naila melanjutkan, “Mungkin kita lupa, bahwa tujuan kita satu. Kalau kita memikirkan diri sendiri, kita bukan tim… hanya tiga orang yang kebetulan sekelas.”

Rafi menghela napas panjang sebelum mengatakan apa yang sebenarnya paling sulit: “Maaf… aku terlalu keras kepala.”

Hadi menatapnya dan mengangguk. “Aku juga. Aku bisa bekerja sama kalau kau juga siap.”

Percakapan itu tak panjang, tapi hangatnya melumerkan semua jarak di antara mereka. Seperti hujan yang membersihkan debu jalanan, kata-kata itu mengembalikan warna yang sempat pudar.


lDi hari pameran, proyek mereka menjadi salah satu yang paling berkesan. Namun bagi mereka bertiga, pencapaian terbesar bukanlah pujian guru, melainkan keberanian untuk saling kembali.


Persahabatan itu seperti langit kecil di pelataran MTs—kadang mendung, kadang terang. Namun di balik semua itu, selalu ada ruang luas untuk memperbaiki, memaafkan, dan bertumbuh bersama.


Dan selama mereka tetap saling menggenggam, langit itu tak akan runtuh.

Tiara zahrotunnisak

 PATAH HATI YANG PULANG KUBAWA

Serpihan cinta bercecer di lantai,

aku menyapanya dengan hati yang diam.

Ara duduk di bangku taman dekat kampus, hujan baru saja reda, dan aroma tanah basah memenuhi udara. Tangan kanannya memegang ponsel, tapi ia tidak berani membuka chat terakhir haekal. Sesekali, ia menatap layar, lalu menunduk lagi.

“Kenapa aku selalu merasa bingung sama dia?”

gumam Ara pada dirinya sendiri. Suara Nadin Amizah dari earphone terdengar pelan, lagu Rumpang mengisi ruang kosong di hatinya.

Hari ini ia janjian bertemu teman-temannya, berharap bisa sedikit melepaskan rasa berat di dada.

“Ara! Kamu telat lagi,”

suara ananda terdengar riang ketika melihat Ara duduk sendiri.

“Maaf… aku agak…”

Ara menunduk, “sedikit pusing.”

“Pusing karena haekal lagi?”

tanya Lila sambil menyeringai.

“Aduh, kamu harus berhenti overthinking, Ara. Dia kan nggak pernah bilang apa-apa yang jelas juga.”

“Aku tahu… tapi rasanya aku nggak bisa berhenti. Setiap kali dia dekat, aku berharap… tapi begitu dia dingin, aku sakit banget,”

jawab Ara lirih, menatap jalan yang basah.

“Itu namanya kamu terlalu cinta sama orang yang nggak jelas,”

sambung zakiya teman sebangkunya di kampus.

“Kamu nggak boleh terus-terusan membiarkan hatimu remuk gitu aja.”

“Aku cuma… ingin tahu dia serius atau enggak,”

bisik Ara, menatap earphone-nya.

“Aku ingin jawaban, tapi aku juga takut bertanya lagi dan akhirnya… kecewa.”

Lagu Nadin berganti ke Bertaut, dan Ara menutup mata sejenak. Suara Nadin seolah memanggil setiap rasa sakit yang ia tahan.

“Ara, kita bisa ngobrol sebentar nggak?”

suara haekal tiba-tiba muncul di chat.

Jantung Ara berdegup kencang, tapi ia menahan diri. Ia tidak membalas. Ia ingin tahu apakah perasaannya dihargai, atau hanya fantasinya sendiri.

Di rumah, Ara menatap jendela yang basah oleh hujan. Ia menulis di jurnalnya:

“Aku mencintainya terlalu berlebihan. Aku ingin tahu apakah dia serius atau aku cuma melukanya sendiri. Aku takut, tapi aku harus menjauh dulu untuk mencari jawaban itu.”

Malam itu, teman-temannya menelpon.

“Ara, kamu baik-baik aja?”

tanya ananda dengan nada khawatir.

“Aku… aku cuma butuh waktu sendiri,”

jawab Ara. Suaranya lembut, tapi tegas.

“Mungkin aku harus berhenti mengharap terlalu banyak, setidaknya untuk sementara.”

Ara menatap langit-langit kamar, playlist Nadin Amizah diputar lagi, kali ini Mendarah. Air mata jatuh pelan. Patah hati yang ia bawa pulang bukan karena Alvaro pergi sepenuhnya, tapi karena mencintai terlalu berlebihan tanpa kepastian.

“Aku harus belajar cukup mencintai tanpa sakit,”

bisiknya, memeluk lututnya.

Tapi malam tetap hening, hanya suara hujan yang mulai turun lagi di luar jendela.

Besoknya, Ara melihat chat Alvaro yang belum dibaca. Hatinya ingin sekali membalas, tapi ia menunduk. Ia sadar, kadang jawaban yang ia cari bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri.

Lagu terakhir Nadin berhenti. Ara menatap cangkir kopi dingin di meja, dan untuk pertama kali ia mengaku pada dirinya sendiri:

“Aku harus pulang, bukan hanya ke rumah, tapi juga ke hatiku sendiri. Dan mungkin, patah hati ini akan menetap di sini dulu, sebelum aku siap lagi.”

Hujan turun lagi di luar, dan Ara tetap duduk di kamar, sendiri, menahan sunyi, menahan patah hati yang pulang bersamanya.

Tamat.


Vicca adyanisa

     ​ Bau Cengkeh di Kaki Gunung Kawi

​Punggung Gunung Kawi tuh langsung nyambut kami pakai kabut tipis dan udara dingin yang bikin gigil. Begitu turun dari mobil desa, Wiwit (anak SMA 16 tahun) langsung narik ritsleting jaket denimnya sampai mentok. Liburan kali ini, dia terpaksa kudu nginep dua minggu di rumah Nenek Sri, di desa kecil di lereng timur Kawi.

​"Cepat, Wit. Jangan kayak siput. Nanti Nenek udah standby di dapur," kata Ayah sambil gotong tas gede, jalan duluan.

​Jalan setapak ke rumah Nenek itu isinya batu alam yang licin gara-gara lumut. Kanan kirinya? Penuh pohon cengkeh sama kopi. Udara di sana punya vibe yang beda banget: dinginnya pol, basah, dan agak manis kayak cengkeh kering yang baru dijemur.

​Rumah Nenek Sri itu rumah kayu jati tua, tipikal rumah panggung dengan teras luas. Di teras itulah Wiwit selalu ngerasa balik ke masa kecilnya, waktu dia masih cemen nangis gara-gara suara serangga malam.

​"Nenek!" teriak Wiwit, langsung meluk Neneknya yang nyambut dia pakai senyum hangat dan mulut yang agak merah karena ngunyah sirih.

​"Cucuku yang paling kece! Udah gede banget, ya. Ayo masuk, di luar brrr dingin banget," kata Nenek Sri, suaranya pelan tapi getar.

​Malam pertama? Itu malam paling dingin yang pernah Wiwit rasain. Dia tidur di kamar kayu dengan jendela langsung nghadap kebun. Di luar, suara jangkrik sama kodok sahut-sahutan, kayak konser alam yang nggak pernah berhenti. Wiwit buka dikit jendelanya. Di kejauhan, lampu-lampu rumah penduduk keliatan kayak kunang-kunang raksasa yang nempel di lereng bukit.

​Paginya, Nenek Sri ngajak dia muter-muter. Ternyata Neneknya itu petani cengkeh dan kopi.

​"Ini namanya cengkeh, Wit. Kopi di sana. Semua orang di sini nyambung hidupnya dari tanah Kawi," jelas Nenek sambil metik beberapa tunas cengkeh yang masih hijau.

​"Kenapa Ayah sama Ibu pindah ke kota, Nek? Di sini adem dan view-nya bagus banget," tanya Wiwit, yang jujur udah ilfeel sama polusi kota.

​Nenek Sri senyum. "Ayahmu punya mimpi besar yang harus dia kejar di tempat ramai, Nak. Tapi di sini, di tanah ini, adalah akar kita. Tanah Kawi nggak pernah minta kita ninggalin dia, dia cuma minta kita inget sama dia."

​Beberapa hari kemudian, Wiwit mulai menikmati daily routine unik di Kawi. Dia bantuin Nenek jemur cengkeh di bawah matahari pagi, dengerin cerita-cerita legend tentang Mbah Jugo dan Eyang Suwito. Dia juga kenalan sama anak-anak desa yang polos dan friendly. Mereka ngajak Wiwit blusukan ke sungai kecil yang airnya bening banget dan dinginnya minta ampun.

​Puncaknya, di hari keenam, Nenek ngajak dia ke kebun cengkeh yang letaknya agak tinggi. Di sana, ada pohon cengkeh tua yang tinggi menjulang.

​"Ini pohon cengkeh pertama yang Ayahmu tanam waktu dia masih kecil. Dia bilang, dia pengen pohon ini jadi pengingat kalau dia pernah jadi anak Kawi," kata Nenek sambil ngelus batang pohon itu.

​Wiwit diem. Dia baru sadar, liburan di rumah Nenek Gunung Kawi tuh bukan cuma liburan fisik. Ini tuh semacam napak tilas emosional. Dia nggak cuma kabur dari kota, tapi juga mendekat ke akar dan kenangan keluarganya yang selama ini kesimpen di balik kabut gunung.

​Pas hari terakhir liburan, Wiwit meluk Nenek Sri kenceng banget.

​"Wiwit janji, liburan depan Wiwit pasti balik, Nek. Wiwit bantu panen cengkeh!"

​Waktu mobil desa bawa dia turun, Wiwit ngeliat lagi punggung Gunung Kawi yang diselimutin awan. Udara dingin itu mendadak jadi hangat. Di tasnya, ada sekantong kecil cengkeh kering dari Nenek.

​Dia tahu, kapan pun dia buka tas itu nanti di kota, aroma sejuk dan manis dari cengkeh kering itu bakal langsung ngebawa dia balik ke rumah tua di lereng Gunung Kawi, tempat dia nemuin ketenangan dan akarnya.


​•​Tema: Pencarian akar, jati diri, dan ketenangan di tempat asal.

•​Tokoh:

- ​Wiwit: Remaja kota yang menemukan koneksi emosional dengan leluhur.

- ​Nenek Sri: Sosok bijak, penjaga tradisi, dan akar keluarga.

•​Latar: Lereng Gunung Kawi (dingin, berkabut, aroma cengkeh).

•​Alur: Maju, dari keterpaksaan hingga penemuan jati diri.

​Klimaks: Penemuan pohon cengkeh pertama yang ditanam Ayah, simbol ikatan keluarga.

•​Sudut Pandang: Orang Ketiga Serba Tahu.

•​Amanat: Pentingnya menghargai akar dan warisan keluarga.

Rabu, 19 November 2025

Thuba hissa

                       karena ciptaannya

Aku bagaikan lemari kosong yang terbuat dari kaca, besar namun setiap isinya terlihat jelas, seakan lemari itu melihatkan kekosongan yang nyata. Sunyi, Kesunyian itu bukan hanya sebuah keadaan, melainkan sebuah nadi kedua yang bernama kesunyian yang berdetak perlahan di bawah kulitku yang dingin. Di antara banyak nya suara langkah kaki, namun tidak ada yang benar-benar berbicara padaku.

Aku tahu, bahwa aku harus mengisi kekosongan lemari tersebut, tetapi lemari kaca tersebut terlalu rapuh seakan menolak untuk di isi. Setiap hari aku berjalan sendiri dari pesantren menuju ke sekolah, aku memang selalu memasang mimik bahagia selama mencari ilmu namun bohong rasanya jika aku mengatakan bahwa aku benar-benar bahagia. Aku sungguh belum tahu apa yang bisa membuat ku bahagia.

Membuat ku selalu bermalas-malasan dalam mengaji dan belajar, bahkan aku selalu terlambat ketika berjamaah di pesantren begitu juga di lingkungan sekolah. Aku selalu terlambat dalam mengerjakan tugas, kebanyakan nilai yang ku dapat selalu kurang tetapi sekalipun nilainya bagus aku belum tentu merasa senang. Aku memang selalu merasa kurang namun tak ada niatan untuk berusaha dan berubah menjadi lebih baik.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda di hari ini, aku tidak tahu apa yang membuat dadaku tiba-tiba berdebar cepat sperti telah mengikuti lari marathon, padahal di saat itu aku hanya melihat sepasang mata laksana dua keping coklat hangat. Kelas yang sebelumnya kosong sekarang terasa sangat ramai, seluruh kekosongan yang menempati tubuh ku ikut sirna, ini adalah cahaya yang membelah kegelapan remajaku, Kamu.

Lemari kaca yang sebelumnya rapuh mulai kokoh dengan sendirinya, hari-hariku mulai terasa begitu indah dengan adanya kamu disana. Aku mengagumimu dengan tanpa rasa ragu, karena aku tahu lemari kaca yang rapuh mulai kokoh dan aku mulai mengisi kekosongan lemari tersebut, aku mulai memperbaiki diri dengan selalu lebih giat dalam belajar dan mengaji aku bahkan menarget setoran ngajiku agar lebih teratur.

Rasanya seperti aku lebih dekat dengan tuhan kerena ciptaan nya. Aku menyukai mu, namun aku masih tidak mampu mengungkapkan nya, aku hanya bisa melihatmu dari kejahuan. Aku tidak mendekatimu bukan karena aku ingin menjauh melainkan ingin mendekatimu dan mendapatkanmu dengan cara yang paling benar menurutku. Aku selalu berdoa untuk mu, untuk kebaikan mu, dan semoga aku bisa memilikimu mesti tak sekarang. Masih belum pantas aku memilikimu tapi aku mulai memantaskan diriku di hadapan tuhanku dengan adanya kamu.

Berbulan-bulan aku menyukaimu, aku mulai tumbuh menjadi orang lebih baik dari hari-hari sebelumnya karena kedatangan mu di hidup ku, kamu lah yang telah membenahi dan mengisi lemari kaca yang rapuh nan kosong itu. Telah lama aku memendam rasa kepadamu tetapi aku masih tidak tahu siapa yang ada di dalam hati mu, mungkin bukan aku. Tetapi kalau memang bukan aku yang ada di hatimu semoga kau tahu bahwa ada seseorang yang benar-benar mencintaimu dan dia dekat dengan mu, akan kutinggikan namamu di rendahnya sujud sepertiga malamku. Karena kamu aku menjadi orang yang lebih baik.

Terimakasih karena telah membuat ku berubah, mungkin kamu tak merasa telah melakukan apa-apa tetapi kamu menyemangatiku lewat setiap senyuman di wajah mu, setiap gerakan membenahi kerudung mu, setiap kamu memakan MBG mu, setiap kamu mengumpulkan tugas, dan setiap bahagiamu yang terlihat oleh ku.

Tetapi itu tidak bertahan lama karena setelah aku melihat tertawamu untuk lelaki lain aku merasa lemas, aku memang tidak tahu siapa lelaki yang bisa membuatmu tertawa itu, aku memang bukan siapa-siapa mu namun itu cukup untuk menggoyah kan semangatku. Seakan lemari kaca yang kau kokohkan dan ku isi dengan baik kau hancur kan hanya dengan sebutir kerikil yang kau jatuh kan dari ketinggian, memang tidak kamu hantamkan kerikil itu dengan keras namun cukup untuk menghacurkan seluruh nya. Saat itu tatapan ku menjadi sangat kosong, mulai detik itu semangat ku yang hidup karenamu mati dengan sendiri, rasanya sperti menusuk kan tombak ke jantung sendiri sakit rasanya namun tak kunjung mati, Itu memang salah ku tidak segera mengungkap kan rasa kepadamu.

Pulang dari sekolah menuju pesantren aku mendapat kesadaran dari beberapa kendaraan yang melewatiku bahwa hubunganku dengan kamu seperti kedua spion kendaraan, kami bisa berdampingan selamanya, berbagi pemandangan dan tujuan yang sama, namun kami tidak akan pernah bisa bertemu di satu titik yang sama demi keselamatan, pada saat itu Tersentak aku dari lamunan perih itu. Benar, hubungan kami seperti spion berdampingan, berbagi tujuan yang sama, tapi takdir seolah melarang kami bertemu di satu titik. tapi Keselamatan siapa yang dipertaruhkan jika kami bertemu? Keselamatan hatiku? Keselamatan imanku?

Saat itu, di tengah debu jalanan yang ku injak, aku menyadari satu hal. Lemari kaca yang telah kau kokohkan dan ku isi itu memang hancur, tetapi serpihannya tidak hanya mencerminkan kekalahan, melainkan juga sebuah pelajaran berharga. Aku telah menjadikanmu sebab untuk menjadi lebih baik, bukan tujuan utama dari perbaikan diriku.

Kamu memang cahaya yang membelah kegelapanku, tetapi aku lupa bahwa cahaya itu seharusnya mengarahkanku pada sumber cahaya yang sesungguhnya, Sang Pemilik Cahaya. Aku memperbaiki diri, bergiat belajar dan mengaji, menarget setoran, dan mendekat pada-Nya, bukan murni karena-Nya, melainkan karena bayanganmu.

“Sungguh, shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”

Kalimat itu tiba-tiba berdengung di telingaku, seolah kutipan itu adalah pesan yang telah lama aku abaikan. Kekosongan yang nyata di awal itu seakan kembali, tetapi kali ini aku melihatnya dengan mata yang lebih jernih. Kekosongan itu bukanlah ruang yang harus diisi dengan kehadiran orang lain, melainkan ruang yang harus diisi dengan kesadaran penuh akan Kehadiran-Nya.

Aku berdiri di gerbang pesantren, seragamku terasa lebih berat dari biasanya. Aku mengambil napas dalam-dalam. Aku melihat lemari kaca yang hancur itu, dan aku memutuskan untuk tidak membangunnya kembali dengan material yang sama. Aku akan tetap memantaskan diri, namun kali ini tujuannya adalah keridaan Tuhanku. Aku akan tetap giat belajar dan mengaji, namun niatnya adalah mencari ilmu yang bermanfaat, bukan mencari perhatianmu dari kejauhan. Aku akan tetap mendoakanmu, bukan lagi dengan harapan agar dapat memilikimu, melainkan agar kamu selalu dalam kebaikan dan perlindungan-Nya.

Sakit ini adalah teguran, pengingat bahwa hati yang rapuh tidak boleh disandarkan pada hati yang juga rentan berubah. Biarlah sakit ini menjadi kaffarah (penebus dosa) atas niatku yang sempat bergeser.

Aku memasuki gerbang pesantren, langkahku kini terasa lebih mantap, meski hati masih terasa perih. Aku tahu, masa perbaikan diriku tidak berakhir dengan melihatmu tertawa untuk lelaki lain. Justru, kisah cintaku yang sebenarnya baru akan dimulai, Kisah cintaku yang lurus, yang hanya berujung pada Sang Pencipta.

Jika memang kelak takdir-Nya mempertemukan kita kembali dalam ikatan yang benar, biarlah itu menjadi bonus dari kesungguhan perjalananku. Jika tidak, aku telah mendapatkan yang jauh lebih berharga yakni kedamaian hati yang tidak lagi bergantung pada bayangan ciptaan-Nya.

Aku tahu, aku adalah lemari kosong, tetapi kini aku memilih untuk mengisinya dengan iman, ilmu, dan amal, hingga lemari kaca itu menjadi kokoh karena kekuatan dari dalam, bukan karena ciptaannya.


M. Zidny Alfiyan

 Senja di Lumajang


Di tepi pantai Watu Kecak, Lumajang, langit mulai memerah seperti kanvas yang dicelup api. Sore itu, angin laut membawa aroma garam dan rumput laut, bercampur dengan harum bunga melati yang mekar di kebun-kebun sekitar. Pak Amir, nelayan tua berusia enam puluh tahun, duduk di atas batu karang sambil memandangi horizon. Jaringnya yang basah tergantung di bahu, bekas perjuangan seharian melawan ombak.


"Senja ini selalu sama, tapi tak pernah bosan," gumamnya pelan, sambil mengisap rokok kretek yang ujungnya berkedip-kedip. Di kejauhan, Gunung Semeru berdiri gagah, siluetnya hitam pekat melawan langit jingga. Asap tipis dari puncaknya mengingatkan pada napas dewa yang sedang tidur. Lumajang, daerah ini, bukan sekadar tanah; ia adalah cerita. Cerita tentang tanah subur yang melahirkan kopi robusta terbaik, tentang sungai-sungai yang mengalir deras dari pegunungan, dan tentang orang-orang yang hidup sederhana namun kuat.


Tiba-tiba, langkah kaki mendekat. Itu Siti, cucunya yang berusia sepuluh tahun, datang sambil membawa keranjang kecil berisi ikan segar. "Kakek, lihat! Matahari mau tenggelam!" serunya, mata bundar penuh kegembiraan. Pak Amir tersenyum, mengusap kepala bocah itu. "Ya, Sayang. Senja ini seperti janji. Hari ini berakhir, tapi besok datang lagi. Lumajang kita ini, selalu begitu."


Mereka duduk bersama, menyaksikan matahari perlahan tenggelam ke laut. Ombak berbisik, seolah menceritakan rahasia-rahasia lama. Di balik bukit, desa mulai menyala lampu-lampu rumah, aroma nasi goreng dan sambal terbang dari dapur-dapur. Lumajang menjelang sore bukan sekadar waktu; ia adalah pelukan hangat bagi jiwa yang lelah, pengingat bahwa di tengah kehidupan yang keras, selalu ada keindahan yang menanti. Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, dunia akan tidur dalam damai.

m.zidny alfiyan m.fakhri marzuqi minhatus saniyyah gadis shafira

 kelompok 5

Kalau kamu sedang main ke Candi Singosari dan ingin cari tempat istirahat yang adem, enak, dan estetik, maka Ireco Ice Cream wajib masuk daftar. Sukses mencuri hati berbagai kalangan—dari anak sekolah sampai pasangan muda, rugi banget kalau sampai kamu melewatkan tempat satu ini.

Tersembunyi di pinggir Jalan Kertanegara No.88e, Candirenggo, lokasinya tepat di samping Candi Singosari Malang. Ireco Ice Cream muncul sebagai destinasi dessert favorit warga Malang dan wisatawan lewat konsep estetik, harga ramah kantong, dan inovasi menu khas ala Korea.

Alamat: Jl.Kertanegara No.88e, Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65153. Lokasi strategis, hanya beberapa langkah dari pintu masuk Candi Singosari.

Jam buka: Setiap hari pukul 09.00–21.00 WIB, memungkinkan kamu santai untuk datang pagi atau malam hari.

Dari balcony estetik hingga area indoor yang bersih dan nyaman, Ireco memilih desain yang ramah pengunjung berbagai usia—keluarga, pelajar, hingga pasangan muda. Pelayanan cepat via sistem self-service kontrol remot: kamu pesan, digendong, dan tinggal menunggu panggilan untuk ambil sendiri.

Bingsoo, dessert es serut ala Korea, jadi primadona di sini. Varian rasa seperti cokelat, stroberi, mangga, dan matcha disajikan dengan topping melimpah mulai dari regular Rp16 ribu, dan Extra spesial mulai harga Rp22–29 ribu. Rasanya segar, teksturnya halus, dan porsinya cukup buat sharing berdua.

Sementara untuk pecinta klasik, tersedia soft ice cream berbagai rasa, termasuk float manis yang menyegarkan, dengan harga mulai Rp9 ribu.

Makanan Berat: Rice Box & Ramen ala Anak Kos

Meski terkenal dengan dessert, Ireco ternyata serius juga dalam urusan perut kenyang. Mereka menyajikan berbagai menu rice box seperti:

Rice Box Chicken Nanban (Rp15K)

Rice Box Beef Teriyaki (Rp22K)

Rice Box Chicken Mentai (Rp15K)

Rice Box Sambal Matah (Rp13–15K)

Kalau kamu penggemar ramen, mereka punya Ramen HOT Carbonara, HOT Spicy, dan Curry seharga Rp17 ribu. Bahkan menu paling sederhana seperti mie instan kuah/goreng bisa kamu nikmati mulai dari Rp10–12 ribu.

Menu toast di Ireco terbagi dua: Toast Asin dan Toast Manis.

Untuk yang gurih-gurih sedap, kamu bisa pilih:

Telur keju (Rp14K)

Daging keju (Rp20K)

Complete (Rp22K)

Double Daging (Rp26K)

Sementara pecinta manis bisa mencoba:

Toast Coklat/Keju/Green Tea/Tiramisu (Rp10–12K)

Teksturnya renyah di luar, lembut di dalam. Cocok banget buat teman ngobrol sore bareng teman atau gebetan.

Buat camilan ringan, kamu bisa pilih dari berbagai snack dengan harga rata-rata Rp11 ribu:

Gyoza Chili Oil (Rp13K)

Tahu walik, Cireng, Sosis, Kentang, Siomay Goreng

Crab stick, Chikuwa, Otak-otak (Rp9–11K)

Semua disajikan fresh dan cocok dinikmati bareng es krim atau float.

Logo yoursay

ulasanSenin, 30 Juni 2025 | 10:12 WIB

Ireco Ice Cream: Surganya Es Krim Estetik Dekat Candi di Malang

Hernawan | Oktavia Ningrum

Ireco Ice Cream: Surganya Es Krim Estetik Dekat Candi di Malang

Ireco Ice Cream (DokPrib/Oktavia Ningrum)

Avatar

Oktavia Ningrum

Kalau kamu sedang main ke Candi Singosari dan ingin cari tempat istirahat yang adem, enak, dan estetik, maka Ireco Ice Cream wajib masuk daftar. Sukses mencuri hati berbagai kalangan—dari anak sekolah sampai pasangan muda, rugi banget kalau sampai kamu melewatkan tempat satu ini.

Tersembunyi di pinggir Jalan Kertanegara No.88e, Candirenggo, lokasinya tepat di samping Candi Singosari Malang. Ireco Ice Cream muncul sebagai destinasi dessert favorit warga Malang dan wisatawan lewat konsep estetik, harga ramah kantong, dan inovasi menu khas ala Korea.

Lokasi & Jam Operasional

Ireco Ice Cream (DokPrib/Oktavia Ningrum)

Ireco Ice Cream (DokPrib/Oktavia Ningrum)

Alamat: Jl.Kertanegara No.88e, Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65153. Lokasi strategis, hanya beberapa langkah dari pintu masuk Candi Singosari.

Jam buka: Setiap hari pukul 09.00–21.00 WIB, memungkinkan kamu santai untuk datang pagi atau malam hari.

Dari balcony estetik hingga area indoor yang bersih dan nyaman, Ireco memilih desain yang ramah pengunjung berbagai usia—keluarga, pelajar, hingga pasangan muda. Pelayanan cepat via sistem self-service kontrol remot: kamu pesan, digendong, dan tinggal menunggu panggilan untuk ambil sendiri.

Menu Rekomendasi dan Makanan Utama

Ireco Ice Cream (DokPrib/Oktavia Ningrum)

Ireco Ice Cream (DokPrib/Oktavia Ningrum)

Bingsoo, dessert es serut ala Korea, jadi primadona di sini. Varian rasa seperti cokelat, stroberi, mangga, dan matcha disajikan dengan topping melimpah mulai dari regular Rp16 ribu, dan Extra spesial mulai harga Rp22–29 ribu. Rasanya segar, teksturnya halus, dan porsinya cukup buat sharing berdua.

Sementara untuk pecinta klasik, tersedia soft ice cream berbagai rasa, termasuk float manis yang menyegarkan, dengan harga mulai Rp9 ribu.

Makanan Berat: Rice Box & Ramen ala Anak Kos

Meski terkenal dengan dessert, Ireco ternyata serius juga dalam urusan perut kenyang. Mereka menyajikan berbagai menu rice box seperti:

Rice Box Chicken Nanban (Rp15K)

Rice Box Beef Teriyaki (Rp22K)

Rice Box Chicken Mentai (Rp15K)

Rice Box Sambal Matah (Rp13–15K)

Kalau kamu penggemar ramen, mereka punya Ramen HOT Carbonara, HOT Spicy, dan Curry seharga Rp17 ribu. Bahkan menu paling sederhana seperti mie instan kuah/goreng bisa kamu nikmati mulai dari Rp10–12 ribu.

Aneka Snack Ringan: Banyak Pilihan, Harga Flat!

Ireco ice cream (instagram/ireco.icecream)

Ireco ice cream (instagram/ireco.icecream)

Menu toast di Ireco terbagi dua: Toast Asin dan Toast Manis.

Untuk yang gurih-gurih sedap, kamu bisa pilih:

Telur keju (Rp14K)

Daging keju (Rp20K)

Complete (Rp22K)

Double Daging (Rp26K)

Sementara pecinta manis bisa mencoba:

Toast Coklat/Keju/Green Tea/Tiramisu (Rp10–12K)

Teksturnya renyah di luar, lembut di dalam. Cocok banget buat teman ngobrol sore bareng teman atau gebetan.

Buat camilan ringan, kamu bisa pilih dari berbagai snack dengan harga rata-rata Rp11 ribu:

Gyoza Chili Oil (Rp13K)

Tahu walik, Cireng, Sosis, Kentang, Siomay Goreng

Crab stick, Chikuwa, Otak-otak (Rp9–11K)

Semua disajikan fresh dan cocok dinikmati bareng es krim atau float.

Kenapa Harus Tempat Ini?

Ireco Ice Cream (DokPrib/Oktavia Ningrum)

Ireco Ice Cream (DokPrib/Oktavia Ningrum)

Ireco juga punya etalase kue mini seperti milecrepes, cookies, dan mini cake yang belum tertera di menu resmi. Harganya bervariasi dan berubah tergantung stok hari itu, jadi kamu bisa langsung tanya ke staf atau cek etalase saat datang.

Baru-baru ini dikenalkan ramen sebagai menu gurih alternatif—menandakan keberanian Ireco eksplorasi kuliner di luar zona nyaman es krim.

Harga terjangkau mulai dari Rp5 ribu hingga Rp29 ribu

Kalau kamu cari tempat nongkrong yang nyaman, enak, dan hemat di daerah Singosari, Ireco Ice Cream adalah jawaban tepat. Mau nyamil, ngobrol, atau nugas santai, semua bisa kamu lakukan di sini—dengan bonus pemandangan candi yang cantik dan suasana yang ramah.

Ireco Ice Cream bukan sekadar tempat beli es serut; ia adalah ikon UMKM yang berkembang lewat inovasi konsisten, pelayanan ramah, dan strategi promosi kreatif. Tempat ini membuktikan: kualitas dan harga ramah bisa menyatu, dan lokasi “dekat wisata” adalah nilai tambah yang nyata. Bukan hanya nyamil—tapi juga punya “feels”.

m.zidny alfiyan

m.fakhri marzuqi

minhatus saniyyah

gadis shafira

M Fakhri M, Fajar Dwi Bakti, Reihan Hobby

 Cafe Matarmaja Jadi Tempat Nongkrong Baru yang Diminati Warga Malang


Malang, Jawa Timur — Cafe Matarmaja yang baru beroperasi sekitar dua minggu ini langsung menarik perhatian masyarakat, terutama anak muda dan pekerja yang mencari suasana berbeda untuk bersantai atau mengerjakan tugas.


Dengan konsep bertema urban railway, café ini menggabungkan dekorasi ala stasiun dan nuansa perjalanan kereta malam. Nama “Matarmaja” sendiri dipilih sebagai bentuk penghormatan pada kereta legendaris rute Malang–Jakarta yang sudah dikenal luas oleh warga.


Pemilik cafe, Rizky Ardiansyah, menjelaskan bahwa konsep tersebut dibuat untuk memberikan pengalaman baru bagi para pengunjung. “Kami ingin menghadirkan tempat yang nyaman, unik, dan punya sentuhan nostalgia. Banyak orang punya kenangan dengan perjalanan kereta, dan itu yang kami coba hadirkan di sini,” ujarnya.


Sejak dibuka, Cafe Matarmaja ramai dikunjungi terutama pada malam hari. Banyak pengunjung datang untuk menikmati menu khas seperti Kopi Lokomotif dan Roti Gerbong, sekaligus berfoto di area cafe yang dinilai cukup instagramable. Selain itu, adanya live music setiap akhir pekan membuat suasana cafe semakin hidup.


Pihak pengelola berharap Cafe Matarmaja bisa menjadi ruang kreatif bagi komunitas anak muda di Malang serta ikut mendukung keberlanjutan UMKM kopi lokal.

A. AFIQULWAJIH

Menjadi Lebih Baik di Sekolah Baru
Langkah kaki Risa terasa berat saat memasuki gerbang SMAN CANDA BHIRAWA.
Seragam putih abu-abu itu terasa seperti kostum yang salah. Risa yang dikenal di sekolah
lama adalah pembuat onar, langganan ruang BK, dan sosok yang dijauhi. Pindah ke sini
adalah "kesempatan kedua" dari orang tuanya, sekaligus peringatan terakhir. Ia harus
berubah. Kelas XI IIS 2 terasa asing. Risa duduk di bangku paling belakang, memasang
wajah dingin yang selalu menjadi pertahanannya.
Ia tidak ingin ada yang mendekat, karena ia tahu, begitu mereka tahu masa lalunya, mereka
akan mundur. Rasa takut gagal kembali menjadi dirinya yang lama lebih mencekam
daripada ketakutan pada pelajaran Matematika.
Beberapa hari pertama berjalan sesuai harapannya. Risa sendirian. Namun, semua itu
buyar ketika Lina, gadis berkacamata dengan aura optimis, duduk di sebelahnya saat jam
istirahat. Lina tidak bertanya apa pun tentang sekolah lama Risa. Ia hanya menawarkan
catatan Ekonomi dan senyum yang tulus.
“Susah, ya, pindah sekolah di tengah semester? Tapi jangan khawatir, aku akan
membantumu,” kata Lina.
Kehangatan Lina menjadi gangguan bagi Risa. Rasa nyaman mulai muncul, menentang
tembok pertahanan yang selama ini ia bangun. Risa mulai menerima uluran tangan itu. Ia
memaksa dirinya fokus belajar, pulang tepat waktu, dan menolak ajakan bolos dari
kelompok lain. Perubahan ini terasa seperti mendaki gunung, setiap hari adalah perjuangan
melawan kebiasaan buruk yang sudah mendarah daging. Dalam hati, Risa sadar, ia
menyukai Risa yang baru ini.
Perubahan Risa diuji pada suatu sore sepulang sekolah. Di tikungan jalan dekat kompleks,
ia berpapasan dengan Geng Buaya, kelompok yang dulu menjadi 'sahabat' Risa di sekolah
lama.
"Halo, Risa, si anak mami. Sudah tobat sekarang?" ejek sang ketua, mendekat dengan
seringai. "Jangan munafik, Ris. Kami tahu kamu bosan pura-pura jadi anak baik. Ayo,
gabung lagi. Ada kegiatan seru malam ini."
Jantung Risa berdebar kencang. Naluri lama itu, sensasi adrenalin dari kenakalan, tiba-tiba
memanggilnya. Tangannya mengepal, siap melontarkan jawaban sarkas. Inilah titik
puncaknya. Jika ia ikut, semua usahanya sia-sia. Jika ia menolak, ia benar-benar harus
meninggalkan masa lalunya.
Risa menarik napas panjang. Ia menatap mata sang ketua, bukan dengan amarah lama,
tetapi dengan ketenangan yang baru. "Aku ngga akan kembali. Hidupku ada di sini
sekarang," jawabnya datar. Tanpa menunggu respons, Risa berbalik dan berjalan menjauh
secepat mungkin. Ia membiarkan ejekan dan tawa mereka menghilang di belakang
punggungnya. Ia telah memilih.
Setelah insiden itu, Risa merasa bebas dan senang. Tembok antara dirinya dan
teman-temannya runtuh sepenuhnya. Ia bukan lagi 'anak baru yang misterius' melainkanRisa, yang mulai dikenal karena kepintarannya di mata pelajaran Sejarah dan semangatnya
dalam kegiatan OSIS.
Di akhir semester, saat pembagian rapor, nama Risa dipanggil di urutan yang tidak pernah ia
bayangkan, di tengah-tengah daftar, bukan di paling akhir. Ia melihat rapornya, nilai yang
meningkat tajam, dan yang paling berharga, catatan wali kelas: "Perubahan sikap dan
dedikasi yang luar biasa. Risa adalah inspirasi nyata bagi lingkungan barunya."
Lina memeluknya erat. Risa tersenyum, bukan senyum palsu pertahanan, melainkan
senyum kebahagiaan sejati. Ia menyadari, sekolah baru hanyalah tempat. Perubahan sejati
terjadi di dalam dirinya, dan itu adalah pencapaian terbesa

MALIK

Dampak Positif Mengonsumsi Bahan Pangan Lokal terhadap Ekonomi dan Lingkungan

Mengonsumsi bahan pangan lokal memberikan banyak dampak positif yang sangat penting bagi keberlanjutannya ekonomi dan lingkungan. Salah satu alasan utamanya adalah bahwa produk lokal berasal dari petani dan produsen di daerah sendiri, sehingga keuntungan penjualan akan langsung kembali kepada masyarakat setempat. Dengan meningkatnya permintaan terhadap pangan lokal, pendapatan petani dapat meningkat, lapangan kerja baru terbuka, dan perekonomian daerah berputar lebih kuat. Kondisi ini membantu mengurangi ketergantungan pada impor yang mahal dan tidak stabil harganya.

Selain itu, konsumsi pangan lokal juga membawa dampak positif bagi lingkungan. Produk lokal tidak membutuhkan perjalanan jauh untuk sampai ke konsumen, sehingga mengurangi pengeluaran untuk transportasi. Semakin dekat distribusinya, semakin sedikit energi yang digunakan dan semakin sedikit polusi yang dihasilkan. Selain itu, banyak komoditas lokal ditanam secara musiman dan alami, sehingga lebih mendukung sistem pertanian yang ramah lingkungan.

Dengan demikian, memilih bahan pangan lokal tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga merupakan langkah yang dapat memperkuat ekonomi masyarakat serta menjaga kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, sudah semestinya masyarakat sadar dan mendukung penggunaan bahan pangan lokal sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.

Fa Aghroinaa Talenta Arung Segala

 CERITA PENDEK: Sehari di Pasir Putih dan Utama Raya


Pagi itu sebenarnya terasa biasa-biasa saja, sampai tiba-tiba ada pengumuman yang membuat seluruh anggota tim paduan suara heboh. “Anak-anak tim padus, turun ke bawah sebentar ya!” kata pembina lewat speaker sekolah. Awalnya kami kira mau latihan mendadak atau ada pemberitahuan lomba baru, tapi ternyata… tidak sama sekali.

Begitu kami turun, pembina tersenyum sambil mengangkat beberapa lembar kertas. “Ini surat izin rekreasi. Minggu depan kita liburan bareng ke Pasir Putih dan Utama Raya.”

Seketika ruangan pecah dengan teriakan kecil dan tepuk tangan. Aku, Amel, dan Muthi langsung saling pandang penuh antusias.

“YA AMPUN KITA LIBURAN!” teriak Amel sambil memeluk kami berdua.

“Mana suratnya, mana suratnya—aku mau tanda tangan cepet biar pasti diizinin!” kata Muthi.

Aku sendiri sampai senyum-senyum nggak jelas. Rasanya habis dikasih kabar menang undian.

Selama beberapa hari menjelang liburan, yang kami ributkan bukan soal apa yang harus dibawa, tapi soal mau pakai baju apa.

“Kita seragamin nggak? Atau aesthetic pantai gitu?” tanya Amel sambil scrolling Pinterest.

“Yang penting nyaman, Mel. Tapi… foto tetap harus bagus,” jawabku sambil ketawa.

Muthi cuma geleng-geleng. “Kalian tuh ya… liburan satu hari aja hebohnya kaya mau ke luar negeri.”

Tapi akhirnya kami bertiga menyiapkan pakaian yang menurut kami paling cocok: santai, cerah, dan instagramable. Wkwk.


Hari H pun tiba. Kami sudah kumpul di Pujisari jam 7 pagi, dan seperti biasa, ada saja yang datang mepet waktu. Tapi begitu bus datang, semua langsung naik dengan wajah berbinar. Lagu-lagu mulai diputar kecil-kecilan, padahal perjalanan masih lama.

Perjalanan sekitar empat jam itu terasa cepat karena kami sibuk ngobrol, bercanda, dan sesekali bernyanyi kecil. Bahkan pembinanya sempat komentar, “Kayanya sebelum ke pantai pun kalian udah konser.”

Setibanya di Pasir Putih sekitar jam 11, kami turun dari bus sambil menghirup aroma laut yang khas—asin dan segar. Ombaknya terdengar jelas, pasirnya lembut, dan anginnya sepoi-sepoi. Tanpa pikir panjang, kami langsung lari ke tepian pantai.

“Aaah dingin!” pekikku waktu air pertama kali menyentuh kaki.

“Awas basah semua bajumu, nanti nggak bisa ke Utama Raya,” kata Muthi sambil menahan Amel yang sudah hampir nyebur.

Kami bermain pasir, bikin bentuk-bentuk aneh yang entah mirip apa, dan sesekali saling ciprat-cipratan air. Tawa kami benar-benar memenuhi pantai. Kamera ponsel pun tak berhenti bekerja. Foto berdiri, foto lompat, foto sambil pura-pura jalan—lengkap semua.

Waktu berlalu cepat, dan tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Kami kembali ke bus, masih dengan pasir yang nyangkut di celana.

Tujuan berikutnya adalah Utama Raya. Begitu sampai, kami langsung makan siang telat bersama rombongan. Setelah itu, kami jalan ke pantai bagian belakang.

Pantainya lebih tenang. Cocok buat foto-foto. Dan benar saja—kami langsung bergerak mencari spot terbaik.

“Di sini bagus! Cahaya dari samping gitu,” kata Amel yang mendadak jadi fotografer profesional.

“Kali ini aku mau foto rame-rame, ayo sini!” seruku.

Kami jajan es krim, minum kelapa muda, dan menikmati angin sore. Walaupun cuma sebentar, tempat itu terasa hangat dan menyenangkan. Menjelang Maghrib, kami berkumpul dan salat bersama sebelum bersiap pulang

Perjalanan pulang ternyata jadi babak paling seru. Begitu bus melaju, kami langsung nyalain speaker mini dan… konser dimulai. Semua nyanyi—yang suaranya bagus maupun yang falsnya bikin ngakak. Pembina cuma geleng-geleng sambil senyum.

“Anak padus kok nyanyinya begini amat,” celetuk beliau.

“Terserah Bu, yang penting happy!” sahut Muthi sambil tertawa.

Dari lagu galau sampai lagu ceria, semuanya kami nyanyikan. Lampu bus yang remang-remang membuat suasana tambah hangat. Rasanya seperti menutup hari dengan pesta kecil.

Sekitar jam 9 malam, bus akhirnya tiba kembali di Pujisari. Tubuh memang capek, rambut acak-acakan, baju sedikit berpasir… tapi hati puas sekali. Aku langsung pulang dengan senyum lebar yang susah hilang.

Dan malam itu, sebelum tidur, aku cuma bisa mikir:

“Seharian tadi seru banget. Andai bisa ngulang lagi…”


—Selesai—

M. Arif Imamuddin, Tinjung, Adrian, Arung, Rifai

 Muhammad Arif Imamuddin (Führer)

Muhammad Adriansyah

Tinjung Nugrayana

Fa Aghroina Talenta Arung Segala



“Mervielle Hadir di Mondoroko Singosari: Warung Ngopi dan Makan dengan Cita Rasa Elegan”


Teks Berita:

Singosari, Mondoroko — Sebuah tempat kuliner  bernama Mervielle telah hadir di kawasan Jalan Mondoroko, Singosari, menawarkan perpaduan unik antara suasana nyaman, menu berkualitas, dan pelayanan yang berkelas. Warung ngopi dan makan ini mulai menarik perhatian masyarakat setempat berkat konsepnya yang mengedepankan pengalaman kuliner yang hangat namun tetap elegan.


Mervielle menyajikan beragam pilihan kopi racikan yang diracik langsung oleh barista berpengalaman, mulai dari kopi tradisional hingga varian modern yang digemari kaum muda. Selain itu, tersedia pula menu makanan khas nusantara dan hidangan kekinian yang disajikan dengan tampilan menarik serta cita rasa autentik, seperti nasi ayam katsu dan burger serta kentang goreng.


Pemilik Mervielle menyampaikan bahwa kehadiran warung ini diharapkan dapat menjadi ruang singgah bagi masyarakat yang membutuhkan tempat nyaman untuk berbincang, bekerja, maupun sekadar menikmati kopi berkualitas. “Kami ingin Mervielle menjadi tempat di mana setiap pengunjung dapat merasakan kenyamanan dan kehangatan, tanpa meninggalkan kesan profesional dan rapi,” ujarnya.


Dengan suasana yang tertata rapi, fasilitas lengkap, serta harga yang tetap bersahabat, Mervielle berkomitmen memberikan pengalaman kuliner yang memadukan kualitas dan estetika. Tidak heran jika tempat ini mulai menjadi rekomendasi banyak pengunjung yang mencari destinasi ngopi dan makan yang berkelas di kawasan Mondoroko.


Mervielle di Jalan Mondoroko Singosari kini resmi membuka pintu bagi siapa pun yang ingin menikmati sajian terbaik dengan suasana yang menenangkan dan elegan. Tempat ini diprediksi menjadi salah satu ikon kuliner baru di wilayah Singosari.

Fa Aghroinaa Talenta Arung Segala

 Ketahanan Pangan di Kota Malang


Ketahanan pangan bukan hanya masalah pedesaan atau pertanian skala besar — di Kota Malang, isu ini sangat relevan dan nyata di tengah keterbatasan lahan perkotaan. Kota Malang, sebagai kota padat dan berkembang, menghadapi tantangan menyusutnya lahan pertanian. Namun pemerintah kota dan warga setempat telah menunjukkan bahwa ketahanan pangan kota bisa diperkuat melalui inovasi urban farming dan kolaborasi masyarakat. Oleh karena itu, peran warga dan kebijakan lokal sangat penting untuk menjaga ketahanan pangan di kota.


Salah satu bukti nyata adalah program Urban Farming Arema yang digagas oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang.   Program ini mendorong warga kota memanfaatkan pekarangan rumah, lahan sempit, hingga atap sebagai lahan pertanian. Dengan demikian, keterbatasan lahan tidak lagi menjadi penghalang untuk memproduksi pangan lokal. Selain itu, Dispangtan juga memberikan pelatihan untuk warga melalui workshop urban farming, sehingga keterampilan bercocok tanam bisa menyebar secara luas.  


Argumen pertama: urban farming meningkatkan ketersediaan pangan lokal. Karena banyak warga yang menanam sayuran dan tanaman pangan lain di pekarangan, ketergantungan terhadap pasokan dari luar kota bisa berkurang. Ini menguatkan ketahanan pangan nasional melalui skala kota. Selain itu, Dispangtan Kota Malang secara aktif mempromosikan hasil urban farming ke pasar lokal, hotel, dan restoran di Malang.   Dengan jalur pemasaran ini, produk pangan lokal dari urban farming tidak hanya dikonsumsi sendiri, tetapi juga bisa menjadi komoditas ekonomi, memperkuat aspek kemandirian pangan sekaligus ekonomi lokal.


Argumen kedua: kolaborasi sosial dan komunitas memperkuat sistem pangan kota. Pelatihan urban farming di kota ini tidak hanya soal produksi, tetapi juga membangun jejaring sosial antar-warga. Wakil Wali Kota Malang menyatakan bahwa urban farming bisa menjadi perekat sosial: kelompok warga dari kelurahan dapat saling bertukar hasil panen, menciptakan semacam sistem barter modern yang menghidupkan kembali hubungan sosial tradisional.   Ini sangat penting dalam konteks kota, di mana interaksi sosial menjadi kunci agar program ketahanan pangan berjalan berkelanjutan.


Argumen ketiga: manfaat nyata terhadap ketahanan pangan dan pemenuhan gizi warga. Selain urban farming, data dari Dispangtan menunjukkan bahwa keragaman konsumsi pangan di Kota Malang mendekati ideal.   Artinya, warga kota sudah mulai mengonsumsi berbagai jenis pangan, tidak hanya bergantung pada satu komoditas. Keberagaman ini penting agar ketahanan pangan bukan sekadar soal kuantitas, tetapi juga kualitas gizi. Lebih jauh, tindakan ini bisa mendukung masalah kesehatan di kota seperti stunting atau masalah kekurangan gizi, karena pangan lokal yang bervariasi lebih mudah diakses oleh warga.


Selain itu, contoh dari kolaborasi instansi lokal sangat menarik: Polresta Malang Kota, misalnya, menggunakan lahan perkotaan untuk menanam jagung, dan panen raya jagung di lahan sekitar 2.500 m² berhasil mencapai 1,8 ton.   Ini menunjukkan bahwa pertanian kota tidak hanya berbasis tanaman sayur kecil, tetapi bisa juga komoditas pangan pokok yang relevan untuk ketahanan pangan di kota.


Berdasarkan fakta-fakta tersebut, sangat jelas bahwa ketahanan pangan di Kota Malang bukan sekadar wacana: inisiatif urban farming, pelatihan warga, dan kolaborasi antarlembaga membuktikan bahwa kota pun mampu menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan pangan. Maka dari itu, pemerintah kota, komunitas lokal, dan warga perlu terus mendorong program-program serupa, memperluas lahan urban farming, mendukung pemasaran hasil pertanian lokal, dan menanamkan kesadaran bahwa setiap warga bisa berperan aktif dalam menjaga ketersediaan pangan di kotanya.

A. AFIQULWAJIH

RIFKY ANDI

“Mencari Cahaya Dalam Lorong”


aku terus melangkah, aku pasti akan menemukan jalanku sendiri.
Aku bukan lagi berjalan di lorong tanpa arah.
Aku sedang mencari arah itu—dan aku siap menjalaninya.
Lorong MA Al Maarif Singosari sore itu terasa lebih panjang daripada biasanya. Langkahku bergema di antara dinding yang mulai gelap, sementara sinar matahari terakhir menembus kaca jendela yang kusam. Rasanya seperti seluruh bangunan sedang menarik napas panjang, menelan sunyi pelan-pelan—dan aku berdiri sendirian di tengahnya.
Aku membuka loker tua yang nyaris karatan. Di dalamnya ada buku-buku pelajaran, lembar kerja yang kuselipkan sembarangan, dan selembar kertas yang ingin sekali kuhindari. Hasil ujian tengah semester. Angkanya merah, mencolok, menyakitkan.
Aku menatapnya lama. Lama sekali.
“Nilai segini… masa depanku mau dibawa ke mana?” bisikku pada diri sendiri.
Sungguh, akhir-akhir ini aku seperti berjalan tanpa arah. Teman-temanku sudah punya tujuan yang jelas—ada yang ikut kompetisi, ada yang sudah les persiapan kuliah, ada yang mulai merancang jurusan masa depan. Sementara aku? Menatap nilai merah, bingung, dan merasa semakin tertinggal.
Suara langkah kaki terdengar dari kejauhan. Aku sudah tahu itu siapa bahkan sebelum menoleh.
“Masih di sekolah, Rak?” suara lembut itu menyapa.
Aku menoleh. Bu Riska, wali kelasku, berdiri di ujung lorong dengan senyum menenangkan. Kerudung hijau tuanya bergerak pelan diterpa angin dari ventilasi.
“Iya, Bu,” jawabku canggung. “Masih beres-beres.”
Bu Riska mendekat. Tatapannya selalu memiliki cara untuk membaca sesuatu yang bahkan tidak sanggup kuucapkan. Ia berdiri di sampingku, ikut menatap lembar ujian yang masih kugenggam.
“Kamu kelihatan berat,” katanya pelan. “Ada yang mengganggu pikiranmu?”
Aku menelan ludah. “Bu… kalau seorang siswa nggak tahu mau jadi apa… itu salah?”
Bu Riska tersenyum kecil, tapi matanya serius. “Salah kalau kamu berhenti mencari. Tapi kalau kamu bingung? Itu sangat wajar.”
Aku mengembuskan napas. “Tapi Bu… saya ngerasa cuma saya yang begini. Teman-teman lain sudah punya rencana. Saya… nggak punya apa-apa. Bakat nggak jelas, nilai begini, tujuan nggak tahu…”
Bu Riska melirik lorong panjang itu. “Rak, lihat lorong ini.”
Aku mengikuti arah tatapannya. Lorong itu panjang, sebagian gelap, dan ujungnya tak terlihat karena tertutup belokan.
“Kamu lihat ujungnya?” tanya Bu Riska.
“Enggak, Bu.”
“Tapi kamu tetap berjalan kalau mau pulang, kan?”
“Iya, Bu.”
“Kenapa?”
“Karena saya tahu di ujung sana pasti jalan keluar.”
Bu Riska tersenyum lebih lebar. “Nah, begitu juga dengan masa depanmu. Kamu mungkin nggak bisa melihatnya sekarang, tapi bukan berarti nggak ada. Kamu hanya belum sampai di belokannya.”
Kata-katanya menembus tepat di bagian dada yang sejak tadi terasa sesak.
“Tapi saya lambat, Bu,” kataku lirih. “Orang lain udah lari jauh.”
Bu Riska menggeleng. “Tidak semua yang berlari cepat itu tahu arah. Banyak yang berlari hanya supaya terlihat percaya diri. Kamu nggak harus cepat, kamu hanya harus tetap jalan.”
Aku menunduk, memandangi nilai merah itu. Untuk pertama kalinya, aku merasa angka itu bukan hukuman, hanya tanda bahwa aku harus memperbaiki sesuatu.
“Mulailah dari yang kamu bisa,” lanjut Bu Riska. “Nilai bisa diperbaiki. Kemampuan bisa dilatih. Tujuan itu muncul setelah kamu berjalan, bukan sebelum.”
Aku menarik napas panjang. “Tapi saya takut, Bu. Takut nggak jadi apa-apa.”
Bu Riska menatapku dengan raut penuh empati. “Rak, masa depan itu bukan tentang seberapa cepat kamu sampai. Tapi seberapa berani kamu melangkah, bahkan saat kamu belum tahu jalannya.”
Kami berjalan perlahan menyusuri lorong. Suara langkah kaki kami menggema bersama, seperti irama yang menenangkan. Ketika tiba di belokan lorong, aku berhenti sejenak. Lorong di belakang tampak biasa saja, tetapi aku merasa seperti bukan lagi orang yang sama ketika berdiri di ujung tadi.
“Bu…” gumamku ragu. “Kalau masa depan saya belum kelihatan… apa saya bisa tetap maju?”
Bu Riska tersenyum hangat. “Rak, masa depanmu bukan hilang. Ia hanya menunggu kamu cukup siap untuk melihatnya. Dan kamu… sedang menuju ke sana.”
Aku mengangguk, dan entah kenapa, langkahku terasa lebih mantap saat kembali berjalan.
Lorong di depan masih sama—gelap, panjang, dan ujungnya tidak terlihat. Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak takut lagi. Karena aku tahu: meski arah belum tampak, aku tidak berhenti.
Dan selamaaku terus melangkah, aku pasti akan menemukan jalanku sendiri.
Aku bukan lagi berjalan di lorong tanpa arah.
Aku sedang mencari arah itu—dan aku siap menjalaninya.

















Tabel Unsur-Unsur Cerpen
 “Mencari Cahaya Dalam Lorong”
Unsur
Intrinsik



Tahapan Alur
Pengenalan: Tokoh “aku” digambarkan berada di lorong sekolah MA Al Maarif Singosari, merasa bingung tentang masa depan setelah menerima nilai buruk.
2. Muncul Konflik: “Aku” merasa tertinggal dari teman-teman dan tidak memiliki tujuan hidup yang jelas.
3. Klimaks: Percakapan dengan Bu Riska di lorong tentang arti kebingungan, masa depan, dan langkah kecil.
4. Antiklimaks: “Aku” mulai memahami bahwa masa depan tidak harus terlihat jelas dari sekarang.
5. Penyelesaian: “Aku” kembali melangkah dengan lebih percaya diri meski arah belum jelas.



Tema Cerpen
Perjuangan mencari arah masa depan di tengah kebingungan dan ketidakpastian.



Tokoh & Penokohan
Aku (Andi): Bingung, mudah cemas, merasa tertinggal, tetapi mau belajar dan akhirnya menemukan keberanian untuk melangkah.
Bu Riska: Bijaksana, penyabar, perhatian, mampu memberikan nasihat yang menenangkan dan membangkitkan semangat.



Alur
Alur maju (progresif) – cerita bergerak dari kebingungan tokoh utama hingga ia mendapatkan pencerahan dan keberanian untuk melangkah ke masa depan.


Latar
Tempat: Lorong sekolah MA Al Maarif Singosari, loker, belokan lorong.
Waktu: Sore hari menjelang pulang sekolah.

Suasana: Tenang, sunyi, reflektif, sedikit muram namun berujung hangat.

Sudut Pandang
Orang pertama (“aku”) – pembaca melihat peristiwa dari pikiran dan perasaan tokoh utama secara langsung.



Pesan / Amanat
- Tidak apa-apa jika kita belum tahu tujuan hidup; yang penting tidak berhenti melangkah.
- Masa depan tidak selalu terlihat jelas, tetapi keberanian untuk mencoba adalah awal dari perubahan.
- Setiap orang punya ritme masing-masing; tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain.
- Kebingungan bukan kegagalan, melainkan bagian dari proses menemukan arah.




DEWI IZZATUL

 Kenangan indah di pantai ujung ombak

   Pagi itu, matahari baru saja naik ketika suara Ibu mulai membangunkan kami satu per satu. “Ayo bangun, kita mau ke pantai hari ini!” serunya bersemangat. Seketika rasa kantuk hilang, digantikan kegembiraan yang sudah kami tunggu sejak seminggu lalu. Ayah sedang memuat perlengkapan ke bagasi mobil: tikar, makanan, dan pelampung berwarna-warni untuk adik bungsuku, Raka.

   Perjalanan menuju pantai memakan waktu sekitar dua jam. Di sepanjang jalan, kami disuguhi pemandangan hijau yang membentang. Sesekali, angin dari jendela terbuka menerobos masuk, membuat rambutku berkibar. Raka tak berhenti bertanya, “Pantainya masih jauh? Ombaknya besar nggak?” Kami semua tertawa mendengar pertanyaannya yang diulang hampir setiap lima menit.

   Saat mobil berbelok ke arah tepi pantai, suara debur ombak mulai terdengar. Aroma khas laut—asin dan segar—langsung menyambut kami. Setibanya di sana, pemandangan pasir putih dan air biru kehijauan membuat langkah kami terasa ringan. Matahari bersinar cerah, tapi angin pantai menjaga semuanya tetap nyaman.

   Kami memilih tempat teduh di bawah pohon cemara laut. Ibu segera menggelar tikar dan mengeluarkan bekal, sementara Ayah membantu kami memasang tenda kecil sebagai tempat berteduh. Setelah semuanya siap, aku dan Raka berlari menuju air tanpa menunggu komando.

   Ombak siang itu cukup tenang. Raka tertawa setiap kali ombak kecil mengenai kakinya. Aku mengajarinya membuat benteng pasir, tapi setiap kali benteng itu jadi, ombak datang dan merobohkannya. “Wah, ombaknya nakal!” keluh Raka, membuatku dan Ayah yang datang menghampiri kami tertawa.

   Ayah kemudian mengajak kami bermain bola pantai. Permainan kecil itu penuh kekacauan—bola sering terbawa angin, Raka beberapa kali tersandung pasir, dan Ibu tertawa sampai matanya berkaca-kaca melihat kami berlarian seperti anak ayam. Meski sederhana, kebersamaan itu membuat hati terasa hangat.

   Setelah puas bermain, kami duduk menikmati bekal yang dibawa Ibu: nasi goreng, ayam goreng, dan buah segar. Makan di tepi pantai terasa lebih nikmat dibanding makan di rumah. Angin lembut, suara ombak, dan aroma laut membuat suasana terasa begitu damai.

   Sore harinya, kami berjalan menyusuri bibir pantai. Langit berubah jingga keemasan, menciptakan pantulan indah di permukaan air. Kami mengambil foto bersama, mencoba menangkap momen yang rasanya ingin kami simpan selamanya. Raka memungut kerang kecil dan memberikannya padaku sebagai “hadiah pantai”, katanya sambil tersenyum bangga.

   Saat matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala, aku merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan—campuran bahagia, syukur, dan tenang. Hari itu mungkin sederhana, tanpa wahana mahal atau perjalanan jauh, tetapi kebersamaan dengan keluarga membuatnya istimewa.

   Ketika kami pulang, ombak masih terdengar samar dari kejauhan, seolah mengucapkan selamat jalan. Dan dalam hati, aku tahu: liburan ini akan menjadi salah satu kenangan paling indah dalam hidupku.

UNSUR INSTRISIK CERPEN

      1.Tema

Kebersamaan dan kehangatan keluarga saat berlibur ke pantai.

Tema ini tampak dari seluruh cerita yang menekankan momen sederhana namun penuh kehangatan antara tokoh-anak, orang tua, dan adik.

      2.Alur

Alur maju (progresif).

Peristiwa diceritakan secara runtut dari awal hingga akhir.

Rangkaian alur:

Pengenalan — Keluarga bersiap-siap berlibur ke pantai.

Awal konflik / perkembangan — Perjalanan menuju pantai dan suasana riang di mobil.

Puncak cerita — Aktivitas bermain di pantai: bermain ombak, membuat benteng pasir, bermain bola pantai.

Peleraian — Menikmati makan siang bersama dan berjalan sore menyusuri pantai.

Penyelesaian — Melihat matahari terbenam, merasakan kebahagiaan, lalu pulang dengan kenangan indah.

      3.Sudut Pandang

Sudut pandang orang pertama pelaku utama (ditandai dengan penggunaan kata “aku”).

Cerita dilihat dari sudut pandang tokoh utama yang ikut mengalami peristiwa.

     4.Tokoh dan Penokohan

Tokoh Utama:

Aku — Anak yang menjadi pencerita; ceria, penyayang, dan dekat dengan keluarga.

Tokoh Pendamping:

Ibu — Perhatian, ceria, mengurus bekal dan kebutuhan keluarga.

Ayah — Sabar, suka bermain, membawa perlengkapan dan menemani anak-anak bermain.

Raka (adik) — Ceria, lugu, penuh rasa ingin tahu.

    6.Latar (Setting)

a. Latar Tempat

Rumah (saat bersiap)

Dalam mobil (perjalanan)

Pantai (lokasi utama)

Bawah pohon cemara laut

Bibir pantai

b. Latar Waktu

Pagi hari (berangkat dari rumah)

Siang hari (bermain dan makan siang)

Sore menjelang petang (melihat matahari terbenam)

c. Latar Suasana

Ceria (bersemangat berlibur)

Hangat dan penuh kebersamaan

Damai (menikmati ombak dan sore hari)

Riang dan menyenangkan saat bermain

     7.Amanat

Kebahagiaan tidak harus berasal dari hal mewah; kebersamaan keluarga sudah cukup membuat momen spesial.


RAIHAN HOUBBY

Sepatu Rusak dan Mimpi di Lapangan
 
Di gang sempit Bojonegoro di antara rumah-rumah yang berhimpitan hiduplah seorang anak laki-laki bernama Hobby. Tubuhnya kurus, namun semangatnya berkibar seperti bendera.Setiap hari, Hobby melatih kemampuannya bermain Voly di lapangan kecil dekat rumahnya. Sepatu volly nya sudah rusak, solnya mulai mengelupas, tapi baginya, sepatu itu adalah saksi bisu setiap mimpi yang ia susun. 
 
Setiap sore, hobby berlatih bersama teman-temannya. Mereka membentuk tim voly kampung bernama "kantri United". Meski hanya bermodalkan semangat dan kekompakan, kantri United selalu berhasil membuat tim-tim dari kampung lain kewalahan. Hobby adalah Spike serangan timnya.kekuatan dalam memukul bola serta loncatan yang mematikan, menjadi senjata andalan kantri United. 
 
Suatu hari, ada kabar baik datang. Sebuah turnamen volly antar kota akan segera digelar. Hadiahnya lumayan besar, Tanpa ragu, hobby dan teman-temannya mendaftarkan kantri United . Mereka berlatih lebih keras dari biasanya. 
 
Hari turnamen tiba. Hobby dan teman-temannya tampak gugup, namun mereka berusaha saling menyemangati. Pertandingan pertama berjalan lancar. Kantri United berhasil mengalahkan lawannya dengan skor telak. Di pertandingan-pertandingan berikutnya, kantri united terus menunjukkan performa terbaiknya hingga akhirnya berhasil melaju ke babak final.
 
Di babak final, mereka bertemu dengan tim yang sangat kuat, tim yang diperkuat oleh pemain-pemain dari kota terkenal di Surabaya. Hobby dan teman-temannya sempat minder, namun mereka kembali mengingat tujuan awal mereka: bermain untuk keluarga, bermain untuk kampung halaman.
 
Pertandingan final berjalan sangat sengit. Jual beli serangan terjadi sejak menit awal. Tim lawan berhasil unggul terlebih dahulu, namun keadaan itu di putar balikan oleh hobby yang awalnya tertinggal 1-0 menjadi seri. 
 
Di babak kedua,Hobby dan teman-temannya tak menyerah. Mereka terus berjuang hingga akhirnya hobby kembali membuat penonton terpukau karna dia skor menjadi 2-1.
 
Stadion bergemuruh. Hobby dan teman-temannya berlarian merayakan kemenangan. Mereka berhasil menjadi juara turnamen volly antar kota,hobby mengangkat trofi juara dengan bangga. Air mata haru menetes di pipinya. Ia persembahkan kemenangan ini untuk keluarga dan kampung halamannya.
 
Kemenangan ini menjadi titik balik dalam hidup hobby, Ia mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan salah satu klub profesional di Surabaya. Mimpi hobby untuk menjadi pemain hobby profesional akhirnya menjadi kenyataan. Sepatu usang yang dulu menemaninya berlatih di lapangan kecil, kini menjadi saksi bisu kesuksesannya. Hobby tak pernah lupa dari mana ia berasal. Ia selalu ingat pesan ayahnya, bahwa kerja keras dan doa adalah kunci kesuksesan.

HILAL ABDUL ROZAK


Si Anak Kuat

Jarum jam belum genap pukul tiga pagi, tetapi lampu minyak di dapur gubuk Abdul sudah menyala. Di desa Tirta Makmur, udara masih menusuk tulang. Sejak ayahnya sakit-sakitan, Abdul, yang tidak pernah masuk dalam peringkat sepuluh besar di sekolah, mengambil alih peran mencari nafkah. Kerjanya sederhana: mengangkut hasil panen tetangga ke pasar subuh dan setelah itu membantu di warung kopi Mpok Leha.
Konsekuensinya terasa jelas di kelas.
"Abdul! Bangun! Jangan jadikan kelas saya sebagai kamar tidur!" suara keras Pak Rahmat, guru Matematika, selalu berhasil membangunkan Abdul dari tidurnya yang singkat.
Abdul selalu menunduk, bukan karena malu, tapi karena lelah. Ia memang tidak pintar. Otaknya susah sekali mencerna rumus-rumus aljabar. Nilai ulangannya selalu merah. Teman-temannya sering berbisik, menyebutnya ‘Si Anak Lembam’.
Namun, Abdul punya kekuatan yang tak dimiliki teman-temannya: keuletan dan semangat yang membara.
Suatu sore, saat semua temannya sibuk les tambahan, Abdul duduk di tepi sawah sambil memegang sekop. Ia memperhatikan saluran irigasi desa yang selalu mampet di musim hujan, membuat sawah di ujung desa kebanjiran. Malamnya, ia tidak tidur. Ia menggambar di atas kertas bekas, merancang sebuah sistem pintu air mini yang bisa digerakkan dengan sistem katrol sederhana, memanfaatkan energi air itu sendiri.
"Kalau pintunya di sini, airnya bisa kita arahkan ke sana, Mpok," jelas Abdul antusias di warung Mpok Leha.
Mpok Leha, yang melihat gambar Abdul, tertarik. Ia adalah pemilik sawah yang paling sering kebanjiran. Ia memberi Abdul modal kecil untuk membuat prototipe idenya.
Selama seminggu, Abdul bekerja seperti kesetanan, menggabungkan kayu bekas dan tali, mewujudkan desain inovatifnya. Ketika sistem pintu air mini itu berhasil memecah dan mengarahkan aliran air saat hujan lebat, seluruh desa terkejut. Masalah bertahun-tahun selesai oleh ide anak yang selalu tertidur di kelas.
Pak Rahmat, guru Matematika, datang menghampirinya. "Dul, rumus-rumus di papan tulis mungkin sulit kau cerna, tapi logika yang kau terapkan di sawah ini... itu adalah kecerdasan yang sejati," kata Pak Rahmat sambil tersenyum bangga.
Abdul tidak pernah menjadi insinyur dengan gelar tinggi. Ia bahkan tidak lulus dengan nilai memuaskan. Namun, ia menjadi konsultan irigasi andalan desa Tirta Makmur, sukses dengan caranya sendiri. Ia membuktikan bahwa kekuatan sejati bukanlah terletak pada seberapa pintar kita menghafal, tetapi seberapa ulet kita mewujudkan solusi bagi masalah yang nyata. Ia adalah Si Anak Kuat, yang membangun masa depannya bukan di atas meja sekolah, tetapi di atas lumpur sawah.
📝 Analisis Unsur Cerpen
A. Unsur Intrinsik (Unsur dari Dalam Cerita)
| Elemen | Deskripsi dalam Cerpen |
|---|---|
| 🧑 Tema | Perjuangan dan kesuksesan yang dicapai melalui keuletan, bukan hanya kecerdasan akademik. |
| 👥 Tokoh Utama | Abdul (ulet, inovatif, pekerja keras, kurang pintar di sekolah). |
| 👥 Tokoh Tambahan | Pak Rahmat (Guru Matematika, awalnya tegas namun akhirnya suportif). Mpok Leha (Pemilik warung/sawah, pemberi modal awal). |
| 🏞️ Latar Tempat | Desa Tirta Makmur, gubuk, warung Mpok Leha, sawah, dan kelas sekolah. |
| ⏳ Latar Waktu | Pagi buta (saat bekerja) dan siang hari (di kelas), serta masa yang berjalan selama beberapa minggu hingga ia sukses. |
| ⚔️ Konflik | Eksternal: Konflik dengan keadaan (keharusan bekerja) dan lingkungan (cemoohan 'Si Anak Lembam', masalah irigasi). Internal: Konflik batin antara keinginan sukses dan keterbatasan akademik/fisik (sering tidur di kelas). |
| 📈 Alur | Alur Maju (Progresif): Dimulai dari perkenalan tokoh (kehidupan sulit Abdul), munculnya konflik (tidur di kelas), klimaks (menciptakan prototipe pintu air), hingga penyelesaian (sukses sebagai konsultan irigasi). |
| 👁️ Sudut Pandang | Orang ketiga serbatahu (penulis tahu perasaan dan pikiran semua tokoh, seperti kelelahan Abdul dan kebanggaan Pak Rahmat). |
| 💡 Amanat | Keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai akademik. Keuletan, semangat, dan kemampuan untuk berinovasi dalam memecahkan masalah nyata adalah kunci menuju kesuksesan. |
B. Unsur Ekstrinsik (Unsur dari Luar Cerita)
| Elemen | Deskripsi dalam Cerpen |
|---|---|
| 📜 Nilai Sosial-Budaya | Cerita ini menyoroti budaya masyarakat desa yang menjunjung tinggi kerja keras (keuletan) dan prinsip gotong royong (dukungan Mpok Leha dan apresiasi desa). |
| 💼 Nilai Ekonomi/Pendidikan | Menggambarkan realitas di mana faktor ekonomi sering kali mengalahkan kesempatan pendidikan formal, tetapi juga menunjukkan bahwa kecerdasan praktis (inovasi) dapat menghasilkan kesuksesan ekonomi yang baru. |
| ✍️ Latar Belakang Penulis | (Diasumsikan) Penulis ingin menyuarakan kritik terhadap sistem pendidikan yang terkadang hanya fokus pada kecerdasan kognitif, mengabaikan kecerdasan spasial

A. AFIQULWAJIH

ARIF IMAMUDDIN



Tumpukan Sampah

Kota Janapa, negara Lawaknesia 14 Mei 1998, di tengah kota yang berdebu, di antara gedung-gedung tua yang dibiarkan lapuk oleh waktu, berdiri sebuah kampus negeri yang dulu dikenal sebagai pusat pemikiran bangsa, kampus Rational Institut namanya. Namun sejak rezim baru mengambil alih, kampus itu berubah menjadi tempat yang diawasi ketat—setiap poster dianggap propaganda, setiap diskusi dinilai sebagai ancaman, dan setiap langkah mahasiswa diawasi oleh mata-mata negara.

Di sudut halaman kampus, Fuhrer—pemuda berkacamata dengan suara tegas—berdiri bersama tiga sahabatnya: Syah, Joko, dan Anwar. Mereka adalah inti dari Aliansi Suara Rakyat, kelompok mahasiswa yang muncul karena keprihatinan melihat negara yang makin terbelenggu.

“Semakin hari negeri ini seperti tumpukan sampah,” gumam Syah sambil meremas selebaran yang baru ia cetak. “Bau busuknya menyengat sampai ke masa depan kita.”

Fuhrer menatap jauh ke arah gedung rektorat yang kini dijaga aparat. “Justru karena itu kita tidak boleh berhenti. Kalau kita diam, tumpukan itu akan menelan kita semua.”

1. Bara di Balik Kata

Malam itu, di sebuah ruangan kos sederhana yang hanya diterangi lampu belajar, Fuhrer dan kawan-kawannya menyusun rencana. Mereka mempersiapkan aksi terbesar yang pernah digelar mahasiswa sejak bertahun-tahun—sebuah aksi damai yang akan mengundang semua kampus di kota.

“Rezim ini kejam bukan karena kuat,” kata Anwar, “tapi karena rakyat takut. Kalau ketakutan itu hilang, mereka runtuh sendiri.”

Joko menambahkan, “Kita pastikan aksi besok tertib. Kita bawa suara, bukan senjata.”

Mereka mengangguk kompak. Di dinding kamar, terpampang sebuah kertas bertuliskan:
‘Kebebasan tidak diberikan—kebebasan diperjuangkan.’

2. Kota yang Membeku

Pagi itu, jalanan sekitar kampus berubah menjadi lautan manusia. Fuhrer berdiri di depan barisan mahasiswa dengan pengeras suara di tangannya. Spanduk-spanduk besar berkibar.

Namun di sisi lain jalan, barisan aparat berdiri berlapis-lapis. Helm baja, tameng, dan tatapan dingin mengirimkan pesan ancaman.

“Kalau terjadi apa-apa, pastikan kalian tetap bersama,” bisik Syah di samping Fuhrer.

Fuhrer mengangguk, lalu mulai berbicara—suara yang awalnya pelan, kemudian menggelegar menyentuh ribuan telinga.

“Kita berkumpul bukan untuk melawan bangsa kita sendiri. Kita berkumpul untuk menyelamatkannya! Kita bukan musuh negara—kitalah masa depan negara!”

Sorak sorai pecah. Namun aparat tak tinggal diam.

Tiba-tiba, barisan depan mahasiswa terdorong mundur. Tameng logam menghantam udara. Keadaan memanas.

“BERTAHAN! Jangan terpancing!” teriak Joko.

Tapi gas air mata meluncur. Kepanikan mulai merambat.

Fuhrer tak lari. Ia berdiri di depan, tubuhnya menjadi pelindung bagi adik-adik mahasiswa di belakang. Meski matanya perih dan tenggorokannya terasa terbakar, ia tetap mengangkat megafon.

“Kita datang dengan damai!” teriaknya di antara batuk. “Jangan tutup suara rakyat!”

3. Tumpukan Sampah

Beberapa jam kemudian, hujan turun. Jalanan dipenuhi bekas spanduk basah, tumpahan air mata, dan sisa-sisa perlengkapan aksi yang berceceran seperti sampah.

Namun bagi Fuhrer, itu bukan sampah. Itu bukti perjuangan.

Di bawah rindangnya pohon kampus, mereka berlima berkumpul kembali. Wajah lelah, tubuh kotor, tapi mata mereka menyala.

“Aksi ini tidak sia-sia,” kata Anwar sambil tersenyum tipis. “Semakin banyak mata yang melihat apa yang terjadi tadi.”

Syah menambahkan, “Kita mungkin dihalangi, tapi suara kita sudah keluar dari pagar kampus.”

Fuhrer menatap teman-temannya satu per satu. “Kita bukan hanya melawan rezim. Kita sedang membersihkan tumpukan sampah yang ditinggalkan oleh ketidakadilan.”

4. Cahaya di Akhir Jalan

Seminggu setelah aksi itu, kabar besar datang. Video kekejaman aparat saat aksi damai mahasiswa menyebar ke seluruh negeri. Tekanan publik membesar. Orang-orang mulai bangkit, media mulai berani bersuara, dan tokoh-tokoh masyarakat ikut mendukung gerakan mahasiswa.

Rezim yang tadinya menutup telinga mulai goyah.

Pada sebuah malam penuh syukur dan harapan, di halaman kampus yang kini kembali semarak, Fuhrer berdiri di tengah kerumunan mahasiswa.

“Kita belum menang sepenuhnya,” katanya, “tapi hari ini kita membuktikan bahwa kebenaran tidak bisa dipukul mundur.”

Suara gemuruh sorakan menyambut kata-katanya.

Di langit yang cerah, kembang api kecil mekar—hadiah dari mahasiswa seni. Cahaya tersebut memantul pada wajah-wajah penuh harapan.

Fuhrer tersenyum.

Di tengah hiruk pikuk itu, ia berbisik pada dirinya sendiri:

“Suatu hari nanti, tumpukan sampah itu akan hilang. Dan negeri


Tokoh dan penokohan:
1. Fuhrer, Syah, Joko dan Anwar, mereka pemberani, tangguh, pantang menyerah, semangat membara
2. Latar tempat dan waktu:Kota Janapa, Negara Lawaknesia, pada 14 Mei 1998
3. Suasana: Tegang, krisis
4. Alur/plot: maju (progresif)
5. latar waktu: sekarang
6. latar sosial budaya: Lawaknesia rezim otoriter
7. Nilai: Moral dan perjuangan
8. Amanat:
lawanlah mereka yang menindas, belalah mereka yang ditindas dan diperlakukan tidak adil, karena keadilan tidak didapat dengan menunggu, melainkan melawan!

FAJAR DWI BAKTI

KETIKA MESIN ITU TAK LAGI MENYALA


"Ayah pulang jam berapa?"
Pesan itu muncul di layar ponsel Wawan tepat saat ia berhenti untuk istirahat dan menunggu hujan reda. Perutnya terasa perih karena sejak pagi ia belum sempat sarapan. Hanya segelas air putih yang diminumnya sebelum berangkat, itu pun sambil terburu-buru mengejar order pertama.
“Masih narik, Bun. Kenapa?”
Tak lama, pesan suara masuk. Suara istrinya terdengar lembut, diiringi suara kecil.
“Ayah… ayah… pulang…” suara kecil itu terdengar jelas.
Wawan langsung mendekatkan ponsel ke telinga.
“Itu Rara dari tadi nyariin kamu,” kata istrinya. “Katanya mau makan sama Ayah.”
Wawan tertawa pelan. “Rara lagi apa sekarang?” tanya Wawan. Terdengar suara anak perempuan tiga tahun itu lagi, kali ini lebih dekat.
“Ayah… cepet pulang… bawa permen…”
Hati Wawan terasa hangat. Di tengah hujan lebat yang mengguyur jalanan dan target order yang belum tercapai, suara kecil itu seperti penyemangat bagi Wawan untuk terus bekerja demi putri kecilnya.
“Iya, Sayang. Ayah pulang agak malam ya. Doain Ayah banyak order, biar bisa beli permen buat Rara.”
“Iyaaa…” jawab Rara si kecil,
Wawan mematikan ponsel, menarik napas panjang, lalu kembali menyalakan motornya. Jaket hijaunya berkibar kecil terbasahi oleh hujan. Hari itu order terasa tak ada habisnya. Dari satu titik ke titik lain, dari hujan lebat ke macet panjang. Ia hanya berhenti sebentar untuk minum dan menunaikan salat di musala kecil dekat SPBU.
Menjelang sore, tubuhnya mulai terasa berat. Tangannya pegal, kepalanya sedikit pusing. Namun setiap kali ingin berhenti, ia teringat suara Rara.
“Ayah… cepet…”
Pesanan ke dua belas selesai tepat saat langit berubah jingga. Notifikasi aplikasi masih berbunyi, menawarkan perjalanan lain. Wawan melihat saldo hari itu. Belum terlalu banyak, tapi cukup untuk membeli susu dan sedikit cemilan dan permen seperti yang dijanjikan.
“Sebentar saja istirahat,” gumam Wawan.
Ia memarkir motor di bawah pohon trembesi di pinggir jalan. Tempat itu agak teduh. Ia meletakkan tubuh ke dasbor kuda besinya. Ponselnya masih di tangan. Notifikasi masuk lagi. Ia berniat menerimanya setelah memejamkan mata sejenak.
Angin malam berembus pelan.
Di rumah kecilnya, Rara duduk di lantai sambil memeluk boneka usangnya.
“Ibu, Ayah mana?” tanya Rara.
“Sebentar lagi pulang,” jawab ibunya sambil tersenyum, meski dalam hati mulai gelisah karena pesan terakhir Wawan sudah lebih dari satu jam lalu.
Di bawah pohon itu, Wawan terlihat seperti tertidur sangat nyenyak. Wajahnya tenang. Tangannya masih menggenggam ponsel. Tak jauh dari situ, Pak Darto, seorang pedagang gorengan yang sudah lama mangkal di sana memperhatikan Wawan. Ia hafal betul pengemudi jaket hijau itu. 
Lama ia perhatikan, Pak Darto merasa heran.
“Tumben lama banget istirahatnya…” gumam Pak Darto
Ia menghampiri pelan.
“Mas Wawan… mau teh hangat?” sapanya ramah.
Tak ada jawaban.
Pak Darto tersenyum kecil, mengira Wawan tertidur. Namun ketika ia mendekat dan melihat wajah itu lebih jelas, ada sesuatu yang membuat dadanya sesak. Wawan terlalu diam. Tangannya terkulai lemah, ponsel hampir terjatuh dari genggaman.
“Mas… Mas Wawan…” suaranya mulai bergetar.
Ia menyentuh bahu Wawan perlahan.
Tubuh itu tak lagi merespons.
Angin malam berembus seperti biasa. Kendaraan tetap berlalu-lalang. Namun di sudut kecil di bawah pohon trembesi itu, Pak Darto berdiri dengan wajah pucat, menyadari bahwa pengemudi yang sering menyapanya sudah menghela nafas terakhir. bahkan pesan terakhir di ponsel Wawan belum sempat terbaca.
“Yah, Rara ketiduran nungguin Ayah.”
Malam itu, sebuah panggilan masuk ke ponsel istrinya.
“Bu… ini Pak Darto. Mas Wawan tadi istirahat di sini…”
Suara itu terhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan berat, “Beliau sudah tidak ada.”
Istrinya terdiam. Rara yang memeluk boneka hanya bertanya polos, “Ayah mana?”
Tak ada jawaban yang mudah untuk anak seusia itu.
Di bawah pohon trembesi, dengan saksi bisu rembulan, kuda besi itu tetap terparkir. Dan seorang ayah telah menyelesaikan perjalanan terakhirnya.

Hilal Abdul Razaq

 Si Anak Kuat

Jarum jam belum genap pukul tiga pagi, tetapi lampu minyak di dapur gubuk Abdul sudah menyala. Di desa Tirta Makmur, udara masih menusuk tulang. Sejak ayahnya sakit-sakitan, Abdul, yang tidak pernah masuk dalam peringkat sepuluh besar di sekolah, mengambil alih peran mencari nafkah. Kerjanya sederhana: mengangkut hasil panen tetangga ke pasar subuh dan setelah itu membantu di warung kopi Mpok Leha.

Konsekuensinya terasa jelas di kelas.

"Abdul! Bangun! Jangan jadikan kelas saya sebagai kamar tidur!" suara keras Pak Rahmat, guru Matematika, selalu berhasil membangunkan Abdul dari tidurnya yang singkat.

Abdul selalu menunduk, bukan karena malu, tapi karena lelah. Ia memang tidak pintar. Otaknya susah sekali mencerna rumus-rumus aljabar. Nilai ulangannya selalu merah. Teman-temannya sering berbisik, menyebutnya ‘Si Anak Lembam’.

Namun, Abdul punya kekuatan yang tak dimiliki teman-temannya: keuletan dan semangat yang membara.

Suatu sore, saat semua temannya sibuk les tambahan, Abdul duduk di tepi sawah sambil memegang sekop. Ia memperhatikan saluran irigasi desa yang selalu mampet di musim hujan, membuat sawah di ujung desa kebanjiran. Malamnya, ia tidak tidur. Ia menggambar di atas kertas bekas, merancang sebuah sistem pintu air mini yang bisa digerakkan dengan sistem katrol sederhana, memanfaatkan energi air itu sendiri.

"Kalau pintunya di sini, airnya bisa kita arahkan ke sana, Mpok," jelas Abdul antusias di warung Mpok Leha.

Mpok Leha, yang melihat gambar Abdul, tertarik. Ia adalah pemilik sawah yang paling sering kebanjiran. Ia memberi Abdul modal kecil untuk membuat prototipe idenya.

Selama seminggu, Abdul bekerja seperti kesetanan, menggabungkan kayu bekas dan tali, mewujudkan desain inovatifnya. Ketika sistem pintu air mini itu berhasil memecah dan mengarahkan aliran air saat hujan lebat, seluruh desa terkejut. Masalah bertahun-tahun selesai oleh ide anak yang selalu tertidur di kelas.

Pak Rahmat, guru Matematika, datang menghampirinya. "Dul, rumus-rumus di papan tulis mungkin sulit kau cerna, tapi logika yang kau terapkan di sawah ini... itu adalah kecerdasan yang sejati," kata Pak Rahmat sambil tersenyum bangga.

Abdul tidak pernah menjadi insinyur dengan gelar tinggi. Ia bahkan tidak lulus dengan nilai memuaskan. Namun, ia menjadi konsultan irigasi andalan desa Tirta Makmur, sukses dengan caranya sendiri. Ia membuktikan bahwa kekuatan sejati bukanlah terletak pada seberapa pintar kita menghafal, tetapi seberapa ulet kita mewujudkan solusi bagi masalah yang nyata. Ia adalah Si Anak Kuat, yang membangun masa depannya bukan di atas meja sekolah, tetapi di atas lumpur sawah.

📝 Analisis Unsur Cerpen

A. Unsur Intrinsik (Unsur dari Dalam Cerita)

| Elemen | Deskripsi dalam Cerpen |

|---|---|

| 🧑 Tema | Perjuangan dan kesuksesan yang dicapai melalui keuletan, bukan hanya kecerdasan akademik. |

| 👥 Tokoh Utama | Abdul (ulet, inovatif, pekerja keras, kurang pintar di sekolah). |

| 👥 Tokoh Tambahan | Pak Rahmat (Guru Matematika, awalnya tegas namun akhirnya suportif). Mpok Leha (Pemilik warung/sawah, pemberi modal awal). |

| 🏞️ Latar Tempat | Desa Tirta Makmur, gubuk, warung Mpok Leha, sawah, dan kelas sekolah. |

| ⏳ Latar Waktu | Pagi buta (saat bekerja) dan siang hari (di kelas), serta masa yang berjalan selama beberapa minggu hingga ia sukses. |

| ⚔️ Konflik | Eksternal: Konflik dengan keadaan (keharusan bekerja) dan lingkungan (cemoohan 'Si Anak Lembam', masalah irigasi). Internal: Konflik batin antara keinginan sukses dan keterbatasan akademik/fisik (sering tidur di kelas). |

| 📈 Alur | Alur Maju (Progresif): Dimulai dari perkenalan tokoh (kehidupan sulit Abdul), munculnya konflik (tidur di kelas), klimaks (menciptakan prototipe pintu air), hingga penyelesaian (sukses sebagai konsultan irigasi). |

| 👁️ Sudut Pandang | Orang ketiga serbatahu (penulis tahu perasaan dan pikiran semua tokoh, seperti kelelahan Abdul dan kebanggaan Pak Rahmat). |

| 💡 Amanat | Keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai akademik. Keuletan, semangat, dan kemampuan untuk berinovasi dalam memecahkan masalah nyata adalah kunci menuju kesuksesan. |

B. Unsur Ekstrinsik (Unsur dari Luar Cerita)

| Elemen | Deskripsi dalam Cerpen |

|---|---|

| 📜 Nilai Sosial-Budaya | Cerita ini menyoroti budaya masyarakat desa yang menjunjung tinggi kerja keras (keuletan) dan prinsip gotong royong (dukungan Mpok Leha dan apresiasi desa). |

| 💼 Nilai Ekonomi/Pendidikan | Menggambarkan realitas di mana faktor ekonomi sering kali mengalahkan kesempatan pendidikan formal, tetapi juga menunjukkan bahwa kecerdasan praktis (inovasi) dapat menghasilkan kesuksesan ekonomi yang baru. |

| ✍️ Latar Belakang Penulis | (Diasumsikan) Penulis ingin menyuarakan kritik terhadap sistem pendidikan yang terkadang hanya fokus pada kecerdasan kognitif, mengabaikan kecerdasan spasial

FAJAR DWI BAKTI

Sinopsis "Ketika Mesin Itu Tak Lagi Menyala" Cerita ini mengisahkan Wawan, seorang pengemudi ojek online yang bekerja keras demi i...