karena ciptaannya
Aku bagaikan lemari kosong yang terbuat dari kaca, besar namun setiap isinya terlihat jelas, seakan lemari itu melihatkan kekosongan yang nyata. Sunyi, Kesunyian itu bukan hanya sebuah keadaan, melainkan sebuah nadi kedua yang bernama kesunyian yang berdetak perlahan di bawah kulitku yang dingin. Di antara banyak nya suara langkah kaki, namun tidak ada yang benar-benar berbicara padaku.
Aku tahu, bahwa aku harus mengisi kekosongan lemari tersebut, tetapi lemari kaca tersebut terlalu rapuh seakan menolak untuk di isi. Setiap hari aku berjalan sendiri dari pesantren menuju ke sekolah, aku memang selalu memasang mimik bahagia selama mencari ilmu namun bohong rasanya jika aku mengatakan bahwa aku benar-benar bahagia. Aku sungguh belum tahu apa yang bisa membuat ku bahagia.
Membuat ku selalu bermalas-malasan dalam mengaji dan belajar, bahkan aku selalu terlambat ketika berjamaah di pesantren begitu juga di lingkungan sekolah. Aku selalu terlambat dalam mengerjakan tugas, kebanyakan nilai yang ku dapat selalu kurang tetapi sekalipun nilainya bagus aku belum tentu merasa senang. Aku memang selalu merasa kurang namun tak ada niatan untuk berusaha dan berubah menjadi lebih baik.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda di hari ini, aku tidak tahu apa yang membuat dadaku tiba-tiba berdebar cepat sperti telah mengikuti lari marathon, padahal di saat itu aku hanya melihat sepasang mata laksana dua keping coklat hangat. Kelas yang sebelumnya kosong sekarang terasa sangat ramai, seluruh kekosongan yang menempati tubuh ku ikut sirna, ini adalah cahaya yang membelah kegelapan remajaku, Kamu.
Lemari kaca yang sebelumnya rapuh mulai kokoh dengan sendirinya, hari-hariku mulai terasa begitu indah dengan adanya kamu disana. Aku mengagumimu dengan tanpa rasa ragu, karena aku tahu lemari kaca yang rapuh mulai kokoh dan aku mulai mengisi kekosongan lemari tersebut, aku mulai memperbaiki diri dengan selalu lebih giat dalam belajar dan mengaji aku bahkan menarget setoran ngajiku agar lebih teratur.
Rasanya seperti aku lebih dekat dengan tuhan kerena ciptaan nya. Aku menyukai mu, namun aku masih tidak mampu mengungkapkan nya, aku hanya bisa melihatmu dari kejahuan. Aku tidak mendekatimu bukan karena aku ingin menjauh melainkan ingin mendekatimu dan mendapatkanmu dengan cara yang paling benar menurutku. Aku selalu berdoa untuk mu, untuk kebaikan mu, dan semoga aku bisa memilikimu mesti tak sekarang. Masih belum pantas aku memilikimu tapi aku mulai memantaskan diriku di hadapan tuhanku dengan adanya kamu.
Berbulan-bulan aku menyukaimu, aku mulai tumbuh menjadi orang lebih baik dari hari-hari sebelumnya karena kedatangan mu di hidup ku, kamu lah yang telah membenahi dan mengisi lemari kaca yang rapuh nan kosong itu. Telah lama aku memendam rasa kepadamu tetapi aku masih tidak tahu siapa yang ada di dalam hati mu, mungkin bukan aku. Tetapi kalau memang bukan aku yang ada di hatimu semoga kau tahu bahwa ada seseorang yang benar-benar mencintaimu dan dia dekat dengan mu, akan kutinggikan namamu di rendahnya sujud sepertiga malamku. Karena kamu aku menjadi orang yang lebih baik.
Terimakasih karena telah membuat ku berubah, mungkin kamu tak merasa telah melakukan apa-apa tetapi kamu menyemangatiku lewat setiap senyuman di wajah mu, setiap gerakan membenahi kerudung mu, setiap kamu memakan MBG mu, setiap kamu mengumpulkan tugas, dan setiap bahagiamu yang terlihat oleh ku.
Tetapi itu tidak bertahan lama karena setelah aku melihat tertawamu untuk lelaki lain aku merasa lemas, aku memang tidak tahu siapa lelaki yang bisa membuatmu tertawa itu, aku memang bukan siapa-siapa mu namun itu cukup untuk menggoyah kan semangatku. Seakan lemari kaca yang kau kokohkan dan ku isi dengan baik kau hancur kan hanya dengan sebutir kerikil yang kau jatuh kan dari ketinggian, memang tidak kamu hantamkan kerikil itu dengan keras namun cukup untuk menghacurkan seluruh nya. Saat itu tatapan ku menjadi sangat kosong, mulai detik itu semangat ku yang hidup karenamu mati dengan sendiri, rasanya sperti menusuk kan tombak ke jantung sendiri sakit rasanya namun tak kunjung mati, Itu memang salah ku tidak segera mengungkap kan rasa kepadamu.
Pulang dari sekolah menuju pesantren aku mendapat kesadaran dari beberapa kendaraan yang melewatiku bahwa hubunganku dengan kamu seperti kedua spion kendaraan, kami bisa berdampingan selamanya, berbagi pemandangan dan tujuan yang sama, namun kami tidak akan pernah bisa bertemu di satu titik yang sama demi keselamatan, pada saat itu Tersentak aku dari lamunan perih itu. Benar, hubungan kami seperti spion berdampingan, berbagi tujuan yang sama, tapi takdir seolah melarang kami bertemu di satu titik. tapi Keselamatan siapa yang dipertaruhkan jika kami bertemu? Keselamatan hatiku? Keselamatan imanku?
Saat itu, di tengah debu jalanan yang ku injak, aku menyadari satu hal. Lemari kaca yang telah kau kokohkan dan ku isi itu memang hancur, tetapi serpihannya tidak hanya mencerminkan kekalahan, melainkan juga sebuah pelajaran berharga. Aku telah menjadikanmu sebab untuk menjadi lebih baik, bukan tujuan utama dari perbaikan diriku.
Kamu memang cahaya yang membelah kegelapanku, tetapi aku lupa bahwa cahaya itu seharusnya mengarahkanku pada sumber cahaya yang sesungguhnya, Sang Pemilik Cahaya. Aku memperbaiki diri, bergiat belajar dan mengaji, menarget setoran, dan mendekat pada-Nya, bukan murni karena-Nya, melainkan karena bayanganmu.
“Sungguh, shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
Kalimat itu tiba-tiba berdengung di telingaku, seolah kutipan itu adalah pesan yang telah lama aku abaikan. Kekosongan yang nyata di awal itu seakan kembali, tetapi kali ini aku melihatnya dengan mata yang lebih jernih. Kekosongan itu bukanlah ruang yang harus diisi dengan kehadiran orang lain, melainkan ruang yang harus diisi dengan kesadaran penuh akan Kehadiran-Nya.
Aku berdiri di gerbang pesantren, seragamku terasa lebih berat dari biasanya. Aku mengambil napas dalam-dalam. Aku melihat lemari kaca yang hancur itu, dan aku memutuskan untuk tidak membangunnya kembali dengan material yang sama. Aku akan tetap memantaskan diri, namun kali ini tujuannya adalah keridaan Tuhanku. Aku akan tetap giat belajar dan mengaji, namun niatnya adalah mencari ilmu yang bermanfaat, bukan mencari perhatianmu dari kejauhan. Aku akan tetap mendoakanmu, bukan lagi dengan harapan agar dapat memilikimu, melainkan agar kamu selalu dalam kebaikan dan perlindungan-Nya.
Sakit ini adalah teguran, pengingat bahwa hati yang rapuh tidak boleh disandarkan pada hati yang juga rentan berubah. Biarlah sakit ini menjadi kaffarah (penebus dosa) atas niatku yang sempat bergeser.
Aku memasuki gerbang pesantren, langkahku kini terasa lebih mantap, meski hati masih terasa perih. Aku tahu, masa perbaikan diriku tidak berakhir dengan melihatmu tertawa untuk lelaki lain. Justru, kisah cintaku yang sebenarnya baru akan dimulai, Kisah cintaku yang lurus, yang hanya berujung pada Sang Pencipta.
Jika memang kelak takdir-Nya mempertemukan kita kembali dalam ikatan yang benar, biarlah itu menjadi bonus dari kesungguhan perjalananku. Jika tidak, aku telah mendapatkan yang jauh lebih berharga yakni kedamaian hati yang tidak lagi bergantung pada bayangan ciptaan-Nya.
Aku tahu, aku adalah lemari kosong, tetapi kini aku memilih untuk mengisinya dengan iman, ilmu, dan amal, hingga lemari kaca itu menjadi kokoh karena kekuatan dari dalam, bukan karena ciptaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar