Jumat, 21 November 2025

Tiara zahrotunnisak

 PATAH HATI YANG PULANG KUBAWA

Serpihan cinta bercecer di lantai,

aku menyapanya dengan hati yang diam.

Ara duduk di bangku taman dekat kampus, hujan baru saja reda, dan aroma tanah basah memenuhi udara. Tangan kanannya memegang ponsel, tapi ia tidak berani membuka chat terakhir haekal. Sesekali, ia menatap layar, lalu menunduk lagi.

“Kenapa aku selalu merasa bingung sama dia?”

gumam Ara pada dirinya sendiri. Suara Nadin Amizah dari earphone terdengar pelan, lagu Rumpang mengisi ruang kosong di hatinya.

Hari ini ia janjian bertemu teman-temannya, berharap bisa sedikit melepaskan rasa berat di dada.

“Ara! Kamu telat lagi,”

suara ananda terdengar riang ketika melihat Ara duduk sendiri.

“Maaf… aku agak…”

Ara menunduk, “sedikit pusing.”

“Pusing karena haekal lagi?”

tanya Lila sambil menyeringai.

“Aduh, kamu harus berhenti overthinking, Ara. Dia kan nggak pernah bilang apa-apa yang jelas juga.”

“Aku tahu… tapi rasanya aku nggak bisa berhenti. Setiap kali dia dekat, aku berharap… tapi begitu dia dingin, aku sakit banget,”

jawab Ara lirih, menatap jalan yang basah.

“Itu namanya kamu terlalu cinta sama orang yang nggak jelas,”

sambung zakiya teman sebangkunya di kampus.

“Kamu nggak boleh terus-terusan membiarkan hatimu remuk gitu aja.”

“Aku cuma… ingin tahu dia serius atau enggak,”

bisik Ara, menatap earphone-nya.

“Aku ingin jawaban, tapi aku juga takut bertanya lagi dan akhirnya… kecewa.”

Lagu Nadin berganti ke Bertaut, dan Ara menutup mata sejenak. Suara Nadin seolah memanggil setiap rasa sakit yang ia tahan.

“Ara, kita bisa ngobrol sebentar nggak?”

suara haekal tiba-tiba muncul di chat.

Jantung Ara berdegup kencang, tapi ia menahan diri. Ia tidak membalas. Ia ingin tahu apakah perasaannya dihargai, atau hanya fantasinya sendiri.

Di rumah, Ara menatap jendela yang basah oleh hujan. Ia menulis di jurnalnya:

“Aku mencintainya terlalu berlebihan. Aku ingin tahu apakah dia serius atau aku cuma melukanya sendiri. Aku takut, tapi aku harus menjauh dulu untuk mencari jawaban itu.”

Malam itu, teman-temannya menelpon.

“Ara, kamu baik-baik aja?”

tanya ananda dengan nada khawatir.

“Aku… aku cuma butuh waktu sendiri,”

jawab Ara. Suaranya lembut, tapi tegas.

“Mungkin aku harus berhenti mengharap terlalu banyak, setidaknya untuk sementara.”

Ara menatap langit-langit kamar, playlist Nadin Amizah diputar lagi, kali ini Mendarah. Air mata jatuh pelan. Patah hati yang ia bawa pulang bukan karena Alvaro pergi sepenuhnya, tapi karena mencintai terlalu berlebihan tanpa kepastian.

“Aku harus belajar cukup mencintai tanpa sakit,”

bisiknya, memeluk lututnya.

Tapi malam tetap hening, hanya suara hujan yang mulai turun lagi di luar jendela.

Besoknya, Ara melihat chat Alvaro yang belum dibaca. Hatinya ingin sekali membalas, tapi ia menunduk. Ia sadar, kadang jawaban yang ia cari bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri.

Lagu terakhir Nadin berhenti. Ara menatap cangkir kopi dingin di meja, dan untuk pertama kali ia mengaku pada dirinya sendiri:

“Aku harus pulang, bukan hanya ke rumah, tapi juga ke hatiku sendiri. Dan mungkin, patah hati ini akan menetap di sini dulu, sebelum aku siap lagi.”

Hujan turun lagi di luar, dan Ara tetap duduk di kamar, sendiri, menahan sunyi, menahan patah hati yang pulang bersamanya.

Tamat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FAJAR DWI BAKTI

Sinopsis "Ketika Mesin Itu Tak Lagi Menyala" Cerita ini mengisahkan Wawan, seorang pengemudi ojek online yang bekerja keras demi i...