KETIKA MESIN ITU TAK LAGI MENYALA
"Ayah pulang jam berapa?"
Pesan itu muncul di layar ponsel Wawan tepat saat ia berhenti untuk istirahat dan menunggu hujan reda. Perutnya terasa perih karena sejak pagi ia belum sempat sarapan. Hanya segelas air putih yang diminumnya sebelum berangkat, itu pun sambil terburu-buru mengejar order pertama.
“Masih narik, Bun. Kenapa?”
Tak lama, pesan suara masuk. Suara istrinya terdengar lembut, diiringi suara kecil.
“Ayah… ayah… pulang…” suara kecil itu terdengar jelas.
Wawan langsung mendekatkan ponsel ke telinga.
“Itu Rara dari tadi nyariin kamu,” kata istrinya. “Katanya mau makan sama Ayah.”
Wawan tertawa pelan. “Rara lagi apa sekarang?” tanya Wawan. Terdengar suara anak perempuan tiga tahun itu lagi, kali ini lebih dekat.
“Ayah… cepet pulang… bawa permen…”
Hati Wawan terasa hangat. Di tengah hujan lebat yang mengguyur jalanan dan target order yang belum tercapai, suara kecil itu seperti penyemangat bagi Wawan untuk terus bekerja demi putri kecilnya.
“Iya, Sayang. Ayah pulang agak malam ya. Doain Ayah banyak order, biar bisa beli permen buat Rara.”
“Iyaaa…” jawab Rara si kecil,
Wawan mematikan ponsel, menarik napas panjang, lalu kembali menyalakan motornya. Jaket hijaunya berkibar kecil terbasahi oleh hujan. Hari itu order terasa tak ada habisnya. Dari satu titik ke titik lain, dari hujan lebat ke macet panjang. Ia hanya berhenti sebentar untuk minum dan menunaikan salat di musala kecil dekat SPBU.
Menjelang sore, tubuhnya mulai terasa berat. Tangannya pegal, kepalanya sedikit pusing. Namun setiap kali ingin berhenti, ia teringat suara Rara.
“Ayah… cepet…”
Pesanan ke dua belas selesai tepat saat langit berubah jingga. Notifikasi aplikasi masih berbunyi, menawarkan perjalanan lain. Wawan melihat saldo hari itu. Belum terlalu banyak, tapi cukup untuk membeli susu dan sedikit cemilan dan permen seperti yang dijanjikan.
“Sebentar saja istirahat,” gumam Wawan.
Ia memarkir motor di bawah pohon trembesi di pinggir jalan. Tempat itu agak teduh. Ia meletakkan tubuh ke dasbor kuda besinya. Ponselnya masih di tangan. Notifikasi masuk lagi. Ia berniat menerimanya setelah memejamkan mata sejenak.
Angin malam berembus pelan.
Di rumah kecilnya, Rara duduk di lantai sambil memeluk boneka usangnya.
“Ibu, Ayah mana?” tanya Rara.
“Sebentar lagi pulang,” jawab ibunya sambil tersenyum, meski dalam hati mulai gelisah karena pesan terakhir Wawan sudah lebih dari satu jam lalu.
Di bawah pohon itu, Wawan terlihat seperti tertidur sangat nyenyak. Wajahnya tenang. Tangannya masih menggenggam ponsel. Tak jauh dari situ, Pak Darto, seorang pedagang gorengan yang sudah lama mangkal di sana memperhatikan Wawan. Ia hafal betul pengemudi jaket hijau itu.
Lama ia perhatikan, Pak Darto merasa heran.
“Tumben lama banget istirahatnya…” gumam Pak Darto
Ia menghampiri pelan.
“Mas Wawan… mau teh hangat?” sapanya ramah.
Tak ada jawaban.
Pak Darto tersenyum kecil, mengira Wawan tertidur. Namun ketika ia mendekat dan melihat wajah itu lebih jelas, ada sesuatu yang membuat dadanya sesak. Wawan terlalu diam. Tangannya terkulai lemah, ponsel hampir terjatuh dari genggaman.
“Mas… Mas Wawan…” suaranya mulai bergetar.
Ia menyentuh bahu Wawan perlahan.
Tubuh itu tak lagi merespons.
Angin malam berembus seperti biasa. Kendaraan tetap berlalu-lalang. Namun di sudut kecil di bawah pohon trembesi itu, Pak Darto berdiri dengan wajah pucat, menyadari bahwa pengemudi yang sering menyapanya sudah menghela nafas terakhir. bahkan pesan terakhir di ponsel Wawan belum sempat terbaca.
“Yah, Rara ketiduran nungguin Ayah.”
Malam itu, sebuah panggilan masuk ke ponsel istrinya.
“Bu… ini Pak Darto. Mas Wawan tadi istirahat di sini…”
Suara itu terhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan berat, “Beliau sudah tidak ada.”
Istrinya terdiam. Rara yang memeluk boneka hanya bertanya polos, “Ayah mana?”
Tak ada jawaban yang mudah untuk anak seusia itu.
Di bawah pohon trembesi, dengan saksi bisu rembulan, kuda besi itu tetap terparkir. Dan seorang ayah telah menyelesaikan perjalanan terakhirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar