CERITA PENDEK: Sehari di Pasir Putih dan Utama Raya
Pagi itu sebenarnya terasa biasa-biasa saja, sampai tiba-tiba ada pengumuman yang membuat seluruh anggota tim paduan suara heboh. “Anak-anak tim padus, turun ke bawah sebentar ya!” kata pembina lewat speaker sekolah. Awalnya kami kira mau latihan mendadak atau ada pemberitahuan lomba baru, tapi ternyata… tidak sama sekali.
Begitu kami turun, pembina tersenyum sambil mengangkat beberapa lembar kertas. “Ini surat izin rekreasi. Minggu depan kita liburan bareng ke Pasir Putih dan Utama Raya.”
Seketika ruangan pecah dengan teriakan kecil dan tepuk tangan. Aku, Amel, dan Muthi langsung saling pandang penuh antusias.
“YA AMPUN KITA LIBURAN!” teriak Amel sambil memeluk kami berdua.
“Mana suratnya, mana suratnya—aku mau tanda tangan cepet biar pasti diizinin!” kata Muthi.
Aku sendiri sampai senyum-senyum nggak jelas. Rasanya habis dikasih kabar menang undian.
Selama beberapa hari menjelang liburan, yang kami ributkan bukan soal apa yang harus dibawa, tapi soal mau pakai baju apa.
“Kita seragamin nggak? Atau aesthetic pantai gitu?” tanya Amel sambil scrolling Pinterest.
“Yang penting nyaman, Mel. Tapi… foto tetap harus bagus,” jawabku sambil ketawa.
Muthi cuma geleng-geleng. “Kalian tuh ya… liburan satu hari aja hebohnya kaya mau ke luar negeri.”
Tapi akhirnya kami bertiga menyiapkan pakaian yang menurut kami paling cocok: santai, cerah, dan instagramable. Wkwk.
Hari H pun tiba. Kami sudah kumpul di Pujisari jam 7 pagi, dan seperti biasa, ada saja yang datang mepet waktu. Tapi begitu bus datang, semua langsung naik dengan wajah berbinar. Lagu-lagu mulai diputar kecil-kecilan, padahal perjalanan masih lama.
Perjalanan sekitar empat jam itu terasa cepat karena kami sibuk ngobrol, bercanda, dan sesekali bernyanyi kecil. Bahkan pembinanya sempat komentar, “Kayanya sebelum ke pantai pun kalian udah konser.”
Setibanya di Pasir Putih sekitar jam 11, kami turun dari bus sambil menghirup aroma laut yang khas—asin dan segar. Ombaknya terdengar jelas, pasirnya lembut, dan anginnya sepoi-sepoi. Tanpa pikir panjang, kami langsung lari ke tepian pantai.
“Aaah dingin!” pekikku waktu air pertama kali menyentuh kaki.
“Awas basah semua bajumu, nanti nggak bisa ke Utama Raya,” kata Muthi sambil menahan Amel yang sudah hampir nyebur.
Kami bermain pasir, bikin bentuk-bentuk aneh yang entah mirip apa, dan sesekali saling ciprat-cipratan air. Tawa kami benar-benar memenuhi pantai. Kamera ponsel pun tak berhenti bekerja. Foto berdiri, foto lompat, foto sambil pura-pura jalan—lengkap semua.
Waktu berlalu cepat, dan tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Kami kembali ke bus, masih dengan pasir yang nyangkut di celana.
Tujuan berikutnya adalah Utama Raya. Begitu sampai, kami langsung makan siang telat bersama rombongan. Setelah itu, kami jalan ke pantai bagian belakang.
Pantainya lebih tenang. Cocok buat foto-foto. Dan benar saja—kami langsung bergerak mencari spot terbaik.
“Di sini bagus! Cahaya dari samping gitu,” kata Amel yang mendadak jadi fotografer profesional.
“Kali ini aku mau foto rame-rame, ayo sini!” seruku.
Kami jajan es krim, minum kelapa muda, dan menikmati angin sore. Walaupun cuma sebentar, tempat itu terasa hangat dan menyenangkan. Menjelang Maghrib, kami berkumpul dan salat bersama sebelum bersiap pulang
Perjalanan pulang ternyata jadi babak paling seru. Begitu bus melaju, kami langsung nyalain speaker mini dan… konser dimulai. Semua nyanyi—yang suaranya bagus maupun yang falsnya bikin ngakak. Pembina cuma geleng-geleng sambil senyum.
“Anak padus kok nyanyinya begini amat,” celetuk beliau.
“Terserah Bu, yang penting happy!” sahut Muthi sambil tertawa.
Dari lagu galau sampai lagu ceria, semuanya kami nyanyikan. Lampu bus yang remang-remang membuat suasana tambah hangat. Rasanya seperti menutup hari dengan pesta kecil.
Sekitar jam 9 malam, bus akhirnya tiba kembali di Pujisari. Tubuh memang capek, rambut acak-acakan, baju sedikit berpasir… tapi hati puas sekali. Aku langsung pulang dengan senyum lebar yang susah hilang.
Dan malam itu, sebelum tidur, aku cuma bisa mikir:
“Seharian tadi seru banget. Andai bisa ngulang lagi…”
—Selesai—
Tidak ada komentar:
Posting Komentar