Study Tour ke Jogja
Minggu malam itu, suasana sekolah yang biasanya sepi mendadak ramai oleh suara tawa dan koper yang saling beradu. Kami berkumpul sejak pukul 22.00, menunggu bis besar berwarna biru yang akan membawa kami menuju Jogja. Lampu-lampu halaman sekolah terasa lebih hangat dari biasanya, mungkin karena semangat kami yang tak sabar ingin segera berangkat.
Begitu bis datang, semua langsung berebut memilih tempat duduk terbaik—biasanya yang dekat jendela atau paling belakang. Setelah doa bersama, bis perlahan melaju menembus gelapnya malam. Di dalam, beberapa teman sudah mulai memutar lagu, ada yang mengobrol, ada juga yang langsung tertidur dengan kepala nyaris menempel pada kaca.
Perjalanan yang panjang itu terasa cepat karena rasa antusias kami. Tepat pukul 03.30 dini hari, akhirnya kami tiba di tempat wisata pertama di Jogja. Udara pagi masih sangat dingin, tapi justru membuat kami merasa lebih segar. Sambil menunggu matahari terbit, kami berfoto bersama dengan latar langit gelap yang perlahan berubah jingga.
Setelah itu, kami dibawa ke tempat makan untuk sarapan pagi. Nasi hangat dan teh manis yang mengepul rasanya berbeda ketika disantap bersama teman-teman sambil bercanda—lebih nikmat, lebih akrab.
Destinasi berikutnya adalah Museum Sisa Hartaku, museum yang bercerita tentang dahsyatnya letusan Merapi. Di dalamnya, kami melihat sisa-sisa barang yang hangus terbakar, sepeda motor yang tinggal rangka, hingga jam yang berhenti tepat saat bencana terjadi. Suasana menjadi hening, membuat kami sadar betapa kuat dan tabahnya masyarakat Jogja.
Menjelang sore, kami menuju hotel untuk beristirahat. Setelah mandi dan berganti pakaian, malamnya kami diajak menonton pagelaran Wayang Rama Shinta. Lampu panggung, musik gamelan, dan gerakan lembut penarinya menciptakan suasana magis. Kami duduk dengan mata berbinar-binar, terpesona oleh keindahan budaya yang selama ini hanya kami lihat dari buku.
Keesokan harinya, kami mengunjungi Candi Prambanan. Candi megah itu berdiri dengan gagah seakan menyambut kami. Kami berkeliling, naik ke beberapa bagian candi, dan tak lupa berfoto sebanyak mungkin. Waktu berjalan cepat hingga jam menunjukkan pukul 14.00, menandakan kami harus melanjutkan perjalanan.
Sore harinya, kami menuju Malioboro, tempat yang selalu penuh warna. Lampu-lampu toko dan suara pedagang yang menawarkan dagangannya menciptakan suasana khas Jogja yang tak pernah membosankan. Kami berburu oleh-oleh: baju batik, gelang kayu, bakpia, hingga gantungan kunci. Tawa kami pecah setiap kali ada teman yang menawar harga terlalu murah dan ditegur halus oleh pedagang.
Hingga jam 8 malam, kami masih sibuk berjalan dan menikmati suasana. Namun pada akhirnya, semua harus selesai. Kami kembali ke bis dengan tangan penuh kantong belanja dan wajah yang letih tapi bahagia.
Pagi buta sekitar pukul 05.00, kami tiba kembali di sekolah. Mata masih terasa berat, tapi hati kami justru hangat. Study tour ke Jogja mungkin hanya dua hari, namun kenangan yang kami bawa pulang jauh lebih dari itu—tawa, kebersamaan, dan cerita yang akan kami ingat sepanjang hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar