Minggu, 12 Oktober 2025

LULUK

Ketahanan pangan pokok di kota batu : sebuah tantangan dan harapan.

Ketahanan pangan merupakan salah satu isu yang menentukan kesejahteraan masyarakat, serta stabilitas sosial dan ekonomi suatu daerah. Di era modern yang penuh dinamika, ketersediaan pangan pokok tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga distribusi, kualitas dan keterjangkauan. Namun, kenyataannya ketahanan pangan di kota batu menghadapi tantangan serius yang perlu segera di tangani.
Alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan wisata dan permukiman terus meningkat. Data dinas pertanian menunjukkan bahwa luas lahan produktif menurun dari tahun ke tahun. Hal ini berpengaruh langsung pada ketersediaan pangan pokok, seperti padi, sayur dan buah-buahan yang selama ini menjadi penopang kebutuhan lokal dan daerah sekitar. Kota batu beresiko semakin bergantung pada pasokan dari daerah lain.
Selain itu, perubahan iklim turut memperburuk situasi pola cuaca yang tidak menentu, curah hujan ekstrim, dan musim kemarau yang panjang mempengaruhi kualitas dan kuantitas hasil pertanian. Tanaman yang sebelumnya tumbuh dengan baik kini lebih rentan terkena hama dan penyakit.
Dengan komitmen yang kuat antara pemerintah, petani, dan masyarakat ketahanan pangan di kota batu dapat terjaga. Pembangunan sektor pariwisata seharusnya dapat berjalan seiring dengan pelestarian lahan pertanian, bukan saling menggantikan. Dengan demikian, kota batu tidak hanya di kenal sebagai kota wisata tetapi juga sebagai kota mandiri dan tanggung dalam memenuhi kebutuhan pangan pokok masyarakat nya.

Kamis, 09 Oktober 2025

M. IBNU MAS'UD.

ALMIRA

STUNTING GUNUNGKIDUL TINGGI, KELOR DAN IKAN TAWAR BISA JADI SOLUSI 
      Di tengah tingginya angka stunting di Kabupaten Gunungkidul, pendekatan berbasis pangan lokal dinilai menjadi solusi yang tidak hanya efektif secara gizi, tetapi juga berkelanjutan. Saat ini, kabupaten Gunungkidul masih menjadi wilayah dengan angka stunting tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), meskipun pada tahun 2024 tercatat mengalami penurunan signifikan. Sebagai bagian dari upaya menanggulanginya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar pelatihan bagi warga Kelurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan, Gunungkidul, untuk mengolah Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar mereka.
  Periset Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN, Dini Ariani, menyampaikan bahwa penanganan stunting dapat dilakukan melalui peningkatan asupan gizi pada balita, salah satunya lewat PMT berbasis pangan lokal. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan warga dalam memilih bahan, menentukan takaran, hingga teknik pengolahan dan penyimpanan yang tepat agar nilai gizi tetap terjaga. Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan praktik pembuatan PMT, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai kandungan gizi dari tiap produk olahan.
  Ikan tawar, misalnya, mengandung asam lemak esensial seperti DHA dan EPA yang penting untuk perkembangan otak dan penglihatan serta membantu menurunkan kolesterol. Bahkan beberapa jenis ikan tawar memiliki kadar omega-6, kalium, dan lemak tak jenuh lebih tinggi dibandingkan ikan laut. Sumber protein nabati seperti tempe juga dioptimalkan dalam pelatihan ini. Sebagai produk asli Indonesia, tempe memiliki kandungan protein setara dengan daging sapi dan berperan dalam pencegahan penyakit degeneratif seperti kanker, osteoporosis, dan diabetes. Selain itu, daun kelor menjadi salah satu bahan unggulan karena kandungan mikronutriennya yang tinggi. Daun ini dikenal sebagai superfood dengan kadar kalsium, kalium, vitamin A dan C, serta zat besi yang melampaui bahan pangan lain seperti susu, pisang, wortel, jeruk, dan bayam.
  Dari pengalaman tersebut, pelatihan PMT berbasis pangan lokal di Karangasem diharapkan menjadi alternatif kudapan bernutrisi yang efektif, serta menjadi langkah konkret menuju ketahanan gizi berbasis komunitas yang lebih berkelanjutan

ZAKIYA KAMILAH

Judul : Urgensi Pengurangan Penggunaan Plastik untuk Kelangsungan Hidup Bumi

1. Pendahuluan
Dunia modern identik dengan kenyamanan yang ditawarkan oleh produk-produk
plastik. Mulai dari kemasan makanan, peralatan rumah tangga, hingga bahan industri, plastik
seakan menjadi kebutuhan primer yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, di
balik kemudahannya, tersembunyi ancaman serius bagi kelangsungan hidup bumi. Sampah
plastik, yang kini tak terkendali jumlahnya, telah menimbulkan berbagai bencana ekologis
dan menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi manusia saat ini. Oleh karena itu,
diperlukan kesadaran dan tindakan kolektif untuk mengurangi penggunaan plastik demi masa
depan bumi yang lebih baik.

2. Isi/Badan Argumen
Pertama, sampah plastik merupakan polutan paling berbahaya bagi lingkungan. Plastik
membutuhkan ratusan tahun untuk terurai secara alami, dan selama proses tersebut, ia
melepaskan zat-zat kimia berbahaya yang mencemari tanah dan air. Misalnya, sampah plastik
yang dibuang sembarangan sering kali menyumbat saluran air, sehingga menyebabkan banjir.
Dan sudah menajdi fakta bahwa sampah yang tidak terkontrol menimbulkan banyak bencana.
Kedua, pengurangan sampah plastik dapat mendorong inovasi dan solusi
berkelanjutan. Dengan mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai, kita mendorong
pengembangan material dan teknologi ramah lingkungan yang lebih inovatif. Ini juga
membuka peluang bagi industri lokal untuk mengembangkan produk-produk alternatif yang
lebih ramah lingkungan, seperti penggunaan bambu atau serat alami sebagai pengganti plastik.
Ketiga, kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan melalui edukasi dan kebijakan yang
tegas. Banyak masyarakat masih membuang sampah sembarangan karena minimnya
pengetahuan tentang dampak buruk plastik serta ketiadaan fasilitas yang memadai. Oleh
karena itu, pemerintah perlu memberikan sanksi tegas kepada pelanggar serta gencar
melakukan penyuluhan dan edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan dan cara
mengelola sampah dengan benar.

3. Kesimpulan
Sebagai penutup, penggunaan plastik yang berlebihan adalah isu krusial yang tidak
bisa diabaikan. Dampaknya sangat merusak lingkungan dan mengancam ekosistem bumi.
Dengan menyadari bahaya tersebut, masyarakat dan pemerintah harus bersatu padu
melakukan perubahan. Mulai dari kebiasaan pribadi seperti membawa tas belanja sendiri
hingga kebijakan global yang mendukung penggunaan alternatif plastik, semua upaya tersebut
penting untuk mengurangi jumlah sampah plastik dan menyelamatkan bumi kita dari
kerusakan yang lebih parah.

ARIF IMAMUDDIN

Revolusi Pangan Lokal
 
Kita seringkali terlena dengan gemerlapnya pasar global, seolah-olah segala kebutuhan bisa dipenuhi dari mana saja. Namun, di balik kemudahan semu itu, tersembunyi kerapuhan yang mengancam kedaulatan pangan bangsa. Sudah saatnya kita menyadari, bahwa ketahanan pangan sejati berakar pada kekuatan lokal, bukan pada ketergantungan impor yang rentan gejolak. Revolusi Pangan Lokal bukan sekadar slogan, melainkan sebuah keharusan yang mendesak.
 
Lihatlah data, bicara apa adanya. Badan Pusat Statistik (BPS) kerap menunjukkan bahwa meskipun kita adalah negara agraris, ketergantungan pada impor komoditas pangan strategis seperti kedelai, gula, bahkan beras, masih menjadi pekerjaan rumah besar. Pada tahun-tahun tertentu, impor beras bisa mencapai jutaan ton, sementara impor kedelai bahkan melampaui 90% dari kebutuhan nasional. Angka-angka ini bukan sekadar deretan digit; ia adalah cerminan rapuhnya fondasi pangan kita. Ketika rantai pasok global terganggu, seperti yang kita saksikan berulang kali akibat pandemi atau konflik geopolitik, harga melambung, pasokan seret, dan rakyatlah yang paling merasakan dampaknya. Petani lokal merana karena kalah bersaing, sementara konsumen tercekik harga yang tak terkendali.
 
Ketergantungan ini bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga ekologi dan sosial. Setiap bahan pangan yang diimpor berarti jejak karbon yang lebih besar, energi yang terbuang untuk transportasi, dan hilangnya potensi ekonomi di tingkat lokal. Sebaliknya, memperkuat pangan lokal berarti memberdayakan petani kita, menghidupkan kembali ekonomi pedesaan, dan memastikan bahwa makanan yang kita konsumsi lebih segar, lebih sehat, dan lebih berkelanjutan. Bayangkan, jika setiap daerah mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan pangannya sendiri, betapa kuatnya kita menghadapi krisis. Data lain menunjukkan bahwa sekitar 23-48 juta ton makanan terbuang setiap tahun di Indonesia, angka yang ironis di tengah masih adanya masalah kerawanan pangan. Ini menunjukkan bahwa bukan hanya produksi yang perlu ditingkatkan, tetapi juga sistem distribusi, pengolahan, dan konsumsi yang lebih bijak.
 
Lantas, di mana peran pemerintah dan Badan Pangan Nasional dalam menghadapi tantangan ini? Kritik harus disampaikan dengan lantang dan jelas. Kebijakan pangan seringkali terasa parsial dan reaktif, bukan proaktif dan terintegrasi. Dukungan untuk petani kecil masih jauh dari memadai. Subsidi pupuk yang tidak tepat sasaran, akses permodalan yang sulit, serta minimnya infrastruktur pascapanen dan pengolahan, membuat petani kita sulit berkembang. Regulasi impor yang terlalu longgar, atau bahkan terkesan menguntungkan segelintir pihak, juga menjadi duri dalam daging bagi upaya swasembada. Transparansi data pangan yang sering berubah-ubah juga menimbulkan kebingungan dan ketidakpastian bagi pelaku usaha maupun masyarakat.
 
Oleh karena itu, saran kami jelas: Pemerintah dan Badan Pangan Nasional harus segera mengambil langkah revolusioner. Pertama, prioritaskan petani kecil melalui program pendampingan intensif, akses permodalan tanpa bunga, dan jaminan harga jual yang stabil. Kedua, investasi besar-besaran pada infrastruktur pangan lokal, mulai dari irigasi, gudang penyimpanan, hingga fasilitas pengolahan yang modern di tingkat desa. Ketiga, perketat regulasi impor dan jadikan impor sebagai opsi terakhir, bukan pilihan utama. Keempat, dorong diversifikasi pangan dengan menggalakkan konsumsi pangan lokal non-beras yang kaya gizi, seperti umbi-umbian, jagung, atau sagu, melalui kampanye edukasi masif. Kelima, bangun sistem data pangan yang akurat dan transparan untuk perencanaan yang lebih baik dan pengambilan keputusan yang berbasis bukti. Terakhir, perkuat kelembagaan petani melalui koperasi dan kelompok tani agar mereka memiliki daya tawar yang lebih kuat di pasar.
 
Revolusi Pangan Lokal adalah panggilan untuk kembali ke akar, untuk menghargai tanah yang kita pijak, dan untuk memberdayakan tangan-tangan yang menanam. Ini bukan hanya tentang mengisi perut, tetapi tentang menjaga martabat bangsa, mengukir kemandirian, dan mewariskan bumi yang lestari untuk generasi mendatang. Mari kita bergerak bersama, mewujudkan kedaulatan pangan yang sejati.

AMELIA SILVA

Rifa'i


 

Rabu, 08 Oktober 2025

TIARA ZAHROTUNNISAK

 Sorgum Jadi Harapan Baru untuk Pangan Lokal dan Industri Hilir di Bandung

 https://trubus.id/sorgum-jadi-harapan-baru-untuk-pangan-lokal-dan-industri-hilir-di-bandung/

Bandung, sebagai salah satu kota besar di Indonesia, terus berupaya mengembangkan ketahanan pangan lokal melalui berbagai inovasi. Salah satu komoditas yang kini menjadi fokus utama adalah sorgum, tanaman serbaguna yang dikenal tahan kekeringan dan memiliki banyak manfaat. Dengan potensi besar sebagai bahan pangan alternatif, sorgum kini diharapkan menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan pangan impor, khususnya gandum.

Upaya pengembangan sorgum ini dilakukan melalui kolaborasi antara Sorgum Center Indonesia, Pusat Riset Teknologi Tepat Guna (PRTT) BRIN, serta Pemerintah Kota Bandung yang diwakili oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP). Bersama-sama, mereka menginisiasi penanaman sorgum di kawasan Sekemala Integrated Farming (Seinfarm) di Ujungberung, Bandung. Salah satu varietas unggulan yang dikembangkan adalah varietas bioguma yang memiliki kandungan kemanisan tinggi. Hal ini menjadikan sorgum bukan hanya sebagai bahan pangan pokok, tetapi juga sebagai bahan baku potensial untuk produk olahan seperti gula semut dan sirup.

Produk olahan berbahan sorgum tersebut telah diuji dan menunjukkan kualitas yang setara dengan gula aren dan gula tebu. Selain itu, alat-alat pengolahan yang dikembangkan seperti open pan cooker dan vacuum evaporator dirancang agar hemat energi dan cocok digunakan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan begitu, pengembangan sorgum tidak hanya memberikan alternatif pangan, tetapi juga mendorong tumbuhnya industri hilir yang berbasis teknologi tepat guna.

Tidak hanya di Kota Bandung, pengembangan sorgum juga dilakukan di Kabupaten Bandung, khususnya di Desa Bojongmangu yang dikenal sebagai Kampung Sorgum. Di sana, kelompok tani perempuan secara aktif menanam dan mengolah sorgum menjadi tepung yang kemudian didistribusikan ke berbagai kota seperti Bandung, Jakarta, Depok, dan Bekasi. Permintaan akan tepung sorgum semakin meningkat dengan distribusi mencapai 200 kilogram per bulan, menunjukkan bahwa produk berbasis sorgum semakin diminati pasar.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, menyatakan bahwa diversifikasi pangan dengan mengembangkan sorgum sebagai alternatif pengganti beras dan gandum adalah langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian pangan lokal. Gin Gin juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi seperti Universitas Pasundan, serta pelaku UMKM agar pengembangan sorgum bisa berjalan optimal dan berkelanjutan.

Melalui riset yang dilakukan oleh BRIN, berbagai inovasi teknologi pengolahan sorgum berhasil dibuat untuk mendukung pengembangan industri hilir. Alat-alat ini dibuat dengan prinsip hemat energi dan sesuai untuk skala usaha kecil, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar sentra sorgum. Dengan adanya teknologi yang tepat guna, diharapkan pengolahan sorgum bisa semakin efisien dan produk-produknya semakin kompetitif di pasar.

Secara keseluruhan, pengembangan sorgum di Bandung menunjukkan prospek cerah sebagai bahan pangan alternatif yang dapat membantu menjaga ketahanan pangan lokal. Selain itu, dengan dukungan teknologi dan riset, sorgum juga berpotensi membuka peluang baru di sektor industri hilir yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Langkah ini sekaligus menjadi wujud nyata inovasi lokal dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan di era modern.

Ke depan, sorgum diprediksi akan semakin banyak dibudidayakan dan diolah menjadi berbagai produk olahan yang bernilai tambah tinggi. Hal ini akan memperkuat posisi Bandung sebagai daerah yang mampu berkontribusi pada kemandirian pangan nasional. Dengan begitu, sorgum bukan hanya menjadi tanaman pengganti gandum dan beras, tetapi juga menjadi simbol inovasi dan kemajuan industri pangan di Indonesia

Tesis:

Pengembangan sorgum di Bandung menjadi strategi penting dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan lokal yang semakin kompleks, sekaligus membuka peluang pengembangan industri hilir berbasis bahan pangan alternatif.

Masalah:

Indonesia, termasuk Bandung, menghadapi tantangan besar dalam ketahanan pangan akibat tingginya ketergantungan pada impor gandum dan beras. Perubahan iklim yang menyebabkan kekeringan dan penurunan produktivitas lahan pertanian juga semakin memperparah kondisi tersebut. Ketersediaan pangan lokal menjadi rentan, sementara harga pangan impor dapat berfluktuasi dan berdampak pada stabilitas ekonomi masyarakat.

Argumentasi:

Sorgum hadir sebagai solusi yang relevan karena tanaman ini tahan terhadap kondisi kekeringan dan dapat tumbuh di lahan dengan kualitas yang rendah. Varietas bioguma yang dikembangkan di Sekemala Integrated Farming (Seinfarm), Bandung, tidak hanya tahan banting tapi juga memiliki kandungan kemanisan tinggi, yang menjadikannya bahan baku potensial untuk gula semut dan sirup. Fakta menunjukkan bahwa produk olahan sorgum ini mampu bersaing dengan gula aren dan gula tebu, membuka peluang diversifikasi pangan lokal dan pengembangan industri hilir.

Selanjutnya, data distribusi tepung sorgum dari Kampung Sorgum di Desa Bojongmangu mencapai 200 kilogram per bulan dengan permintaan pasar yang terus meningkat ke Bandung, Jakarta, Depok, dan Bekasi. Ini membuktikan bahwa sorgum memiliki nilai ekonomi dan pasar yang nyata, serta dapat memberdayakan kelompok tani perempuan sekaligus meningkatkan pendapatan lokal.

Dukungan riset dan teknologi tepat guna dari BRIN, seperti pengembangan alat pengolahan hemat energi, memberikan solusi praktis bagi UMKM untuk mengolah sorgum secara efisien. Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian serta kolaborasi dengan universitas memperkuat sinergi yang diperlukan untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan melalui diversifikasi pangan lokal.

Solusi:

Pengembangan sorgum sebagai pangan lokal harus didukung dengan langkah-langkah strategis, yaitu:

1. Penguatan riset dan pengembangan varietas unggul yang tahan kekeringan dan memiliki nilai tambah.

2. Penyediaan teknologi pengolahan hemat energi yang mudah diakses oleh pelaku UMKM.

3. Pemberdayaan kelompok tani dan pelaku usaha untuk meningkatkan produksi dan distribusi produk olahan sorgum.

4. Kebijakan pemerintah yang mendukung pengembangan sorgum melalui program ketahanan pangan dan insentif bagi pelaku usaha.

Penegasan ulang dan Kesimpulan:

Sorgum merupakan alternatif pangan yang menjanjikan untuk mengatasi masalah ketahanan pangan lokal di Bandung. Dengan ketahanan tanaman terhadap kondisi iklim yang ekstrim dan potensi pengolahan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, sorgum dapat menjadi pilar baru dalam diversifikasi pangan. Dukungan riset, teknologi tepat guna, dan pemberdayaan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengembangan sorgum secara berkelanjutan.

Dengan mengoptimalkan potensi sorgum, Bandung tidak hanya dapat mengurangi ketergantungan pada impor gandum dan beras, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru melalui industri hilir yang berbasis pangan lokal. Oleh karena itu, pengembangan sorgum harus terus diperkuat sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan nasional yang inklusif dan inovatif.


AIDA

Menguatkan Ketahanan Pangan Lokal di Surabaya sebagai Strategi Menghadapi Krisis Pangan

Krisis pangan merupakan persoalan global yang kian mengkhawatirkan. Faktor seperti perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi dunia, dan ketergantungan impor sering kali memicu kenaikan harga pangan serta kelangkaan distribusi. Surabaya sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia tentu tidak kebal terhadap ancaman ini. Dengan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari tiga juta jiwa, kebutuhan pangan di Surabaya sangat tinggi dan beragam. Oleh karena itu, penguatan ketahanan pangan lokal merupakan strategi penting agar kota ini mampu menghadapi potensi krisis pangan secara mandiri dan berkelanjutan.

Pertama, ketahanan pangan lokal mendukung kemandirian kota. Saat ini sebagian besar pasokan pangan Surabaya berasal dari daerah penyangga, seperti Gresik, Sidoarjo, Lamongan, hingga Malang. Jika jalur distribusi terganggu akibat bencana alam atau hambatan logistik, maka ketersediaan pangan di Surabaya akan terganggu. Dengan memperkuat produksi pangan lokal, seperti pertanian perkotaan, urban farming, dan pemanfaatan lahan tidur, Surabaya dapat mengurangi ketergantungan tersebut. Beberapa kawasan bahkan sudah memulai program kampung hidroponik, yang membuktikan bahwa masyarakat kota tetap bisa memproduksi sayuran segar di lahan terbatas.

Kedua, pangan lokal berperan penting dalam menjaga stabilitas harga. Data Badan Pangan Nasional menunjukkan harga komoditas pokok, seperti beras, cabai, dan bawang merah, sering berfluktuasi tajam. Fluktuasi ini sangat berpengaruh terhadap daya beli masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. Dengan memperbanyak produksi pangan lokal, Surabaya tidak hanya menjaga ketersediaan, tetapi juga mampu menekan inflasi harga. Produk pangan lokal yang dijual langsung melalui pasar tani atau koperasi warga dapat memotong rantai distribusi sehingga harga lebih terjangkau.

Ketiga, penguatan pangan lokal mendukung keberlanjutan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Produk pangan lokal biasanya lebih segar karena jarak distribusinya dekat. Hal ini mengurangi penggunaan bahan pengawet, menekan jejak karbon transportasi, serta mendorong pola makan yang lebih sehat. Masyarakat Surabaya dapat terbiasa mengonsumsi sayuran hidroponik, ikan hasil budidaya kolam kota, hingga produk olahan lokal yang memiliki nilai gizi tinggi. Dengan demikian, ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga soal kualitas hidup masyarakat.

Namun, penguatan ketahanan pangan lokal tentu menghadapi sejumlah tantangan. Keterbatasan lahan di tengah padatnya pembangunan kota menjadi hambatan utama. Selain itu, minat generasi muda terhadap pertanian masih rendah karena dianggap kurang menjanjikan secara ekonomi. Distribusi produk lokal juga sering kali terkendala kurangnya akses pasar yang luas. Jika masalah ini tidak diatasi, pangan lokal sulit berkembang secara maksimal.

Untuk itu, solusi kolaboratif sangat dibutuhkan. Pemerintah kota Surabaya dapat memberikan insentif bagi petani kota, menyediakan ruang publik produktif seperti lahan pertanian vertikal, serta membangun pasar khusus produk lokal. Perguruan tinggi dan komunitas masyarakat bisa berperan dalam menciptakan inovasi teknologi pertanian perkotaan. Di sisi lain, masyarakat perlu didorong untuk menghargai produk lokal dengan cara membeli dan mengonsumsi hasil produksi daerah sendiri. Dengan adanya sinergi ini, ketahanan pangan Surabaya dapat tumbuh secara lebih kokoh.

Dengan demikian, memperkuat ketahanan pangan lokal di Surabaya bukan hanya sebuah alternatif, melainkan strategi vital untuk menghadapi krisis pangan. Ketahanan pangan yang kuat menjamin ketersediaan pangan yang cukup, harga yang stabil, serta pola konsumsi yang sehat. Apabila seluruh elemen—pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pelaku usaha—bekerja sama, Surabaya dapat menjadi kota yang tangguh, mandiri, sekaligus menjadi teladan dalam membangun kedaulatan pangan di tengah tantangan global.

TINJUNG GAYATRI

Ketahanan Pangan Lokal Sebagai Kunci Kemandirian Bangsa

Ketahanan pangan merupakan salah satu aspek vital yang harus dimiliki setiap bangsa. Pangan adalah kebutuhan pokok manusia, sehingga ketersediaannya menjadi penentu keberlangsungan hidup masyarakat. Di Indonesia, isu ketahanan pangan semakin penting dibicarakan mengingat jumlah penduduk yang terus meningkat dan kebutuhan pangan yang semakin besar. Dalam konteks ini, memperkuat ketahanan pangan lokal menjadi solusi yang tepat sekaligus strategis demi menjaga kemandirian bangsa.

Pertama, ketahanan pangan lokal sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada tahun 2022 Indonesia masih mengimpor lebih dari 2 juta ton gandum dan 1,9 juta ton kedelai. Fakta ini menunjukkan bahwa ketergantungan pangan impor masih tinggi, padahal Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan tanaman pangan alternatif seperti sorgum, singkong, atau ubi jalar. Jika impor terus dilakukan, Indonesia akan sangat rentan ketika terjadi krisis global, misalnya perang atau perubahan iklim yang memengaruhi pasokan pangan dunia.

Kedua, memperkuat ketahanan pangan lokal juga berarti menjaga kelestarian lingkungan. Pangan lokal umumnya tidak membutuhkan distribusi jarak jauh, sehingga dapat mengurangi jejak karbon dari transportasi. Data Kementerian Pertanian tahun 2021 menunjukkan bahwa sekitar 80% kebutuhan pangan masyarakat sebenarnya bisa dipenuhi dari produksi lokal. Namun, masih banyak masyarakat yang lebih memilih produk impor karena faktor gaya hidup atau harga yang dianggap lebih murah. Padahal, jika pangan lokal didukung penuh, maka rantai distribusi lebih singkat, ramah lingkungan, dan sekaligus menyejahterakan petani lokal.

Ketiga, ketahanan pangan lokal memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya. Setiap daerah di Indonesia memiliki makanan khas yang berbasis pada hasil bumi setempat. Misalnya, masyarakat Papua mengonsumsi sagu sebagai makanan pokok, masyarakat Nusa Tenggara mengandalkan jagung, sementara masyarakat Jawa terbiasa dengan beras. Sayangnya, survei Badan Ketahanan Pangan menunjukkan bahwa konsumsi beras nasional masih mendominasi hingga 90% kebutuhan karbohidrat, sedangkan pangan lokal seperti jagung dan singkong hanya menyumbang 5–7%. Kondisi ini menunjukkan bahwa pangan lokal tradisional mulai ditinggalkan, padahal memiliki nilai gizi tinggi dan dapat menjadi solusi diversifikasi pangan.

Keempat, ketahanan pangan lokal secara langsung berdampak pada kesejahteraan petani. Saat masyarakat lebih memilih produk lokal, hasil panen petani akan memiliki pasar yang jelas dan harga yang stabil. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa sekitar 40% petani Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Hal ini terjadi karena harga jual produk mereka sering tidak sebanding dengan biaya produksi, ditambah lagi persaingan dengan produk impor yang lebih murah.

Untuk menghadapi permasalahan tersebut, ada beberapa solusi yang bisa dilakukan. Pertama, pemerintah harus memberikan dukungan berupa subsidi pupuk, teknologi pertanian modern, serta akses pasar yang luas agar petani dapat meningkatkan hasil produksi. Kedua, diversifikasi pangan harus digalakkan dengan mengedukasi masyarakat agar tidak hanya bergantung pada beras, tetapi juga memanfaatkan pangan lokal lain seperti jagung, sagu, ubi, dan singkong. Ketiga, masyarakat harus memiliki kesadaran untuk membeli dan mengonsumsi produk lokal sehingga petani tidak kehilangan pasar. Keempat, perlu adanya inovasi pengolahan pangan lokal agar lebih menarik, bernilai ekonomi tinggi, dan sesuai dengan selera generasi muda.

Dengan demikian, ketahanan pangan lokal bukan hanya soal memenuhi kebutuhan perut, tetapi juga menyangkut kemandirian bangsa, pelestarian lingkungan, identitas budaya, dan kesejahteraan masyarakat. Upaya memperkuat pangan lokal memang membutuhkan kerja sama antara pemerintah, petani, dan masyarakat, namun manfaatnya akan sangat besar bagi masa depan Indonesia.

DIRRA GHAZIYAH


 Beras Singkong sebagai bahan pangan alternatif

   Singkong (Manihot utillisima) merupakan makanan pokok ketiga setelah padi dan jagung bagi masyarakat Indonesia. Tanaman ini dapat tumbuh sepanjang tahun di daerah tropis dan memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi berbagai tanah. Tanaman ini memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap. Kandungan kimia dan zat gizi pada singkong adalah karbohidrat, lemak, protein, serat makanan, vitamin (B1, C), mineral (Fe, F,Ca), dan zat non gizi, air. Selain itu, umbi singkong mengandung senyawa non gizi tanin.   

Beras singkong kaya akan serat. Serat sangat penting untuk menjaga pencernaan yang sehat dan mencegah masalah seperti sembelit.Dengan mengonsumsi beras singkong, kita dapat mengurangi asupan lemak dan kalori yang dapat menyebabkan penambahan berat badan.


            Beras singkong adalah makanan yang sangat bermanfaat untuk kesehatan kita.Kandungan serat, rendah lemak dan kalori, tinggi antioksidan, serta kemudahan dicerna adalah beberapa alasan mengapa beras singkong seharusnya lebih sering dikonsumsi oleh masyarakat.

GADIS SAFIRA

Rabu, 01 Oktober 2025

NUR KHABIBAH H



KUATKAN DESA, KUATKAN PANGAN 


PENDAPAT:
Desa adalah ujung tombak ketahanan pangan nasional karena sebagian besar penduduk desa menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Jika desa diberdayakan dengan baik, masyarakatnya mampu memproduksi pangan secara mandiri, tidak hanya untuk kebutuhan lokal tetapi juga dapat menopang kebutuhan nasional. Desa yang kuat dalam menghasilkan pangan akan membuat Indonesia lebih berdaulat, tidak mudah goyah oleh krisis global, dan tidak terlalu bergantung pada impor. Dengan demikian, pembangunan desa yang berfokus pada pertanian dan pangan merupakan langkah strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

FAKTA:
Lebih dari 60% penduduk desa bekerja di sektor pertanian. Produksi pangan lokal cukup tinggi, misalnya produksi jagung mencapai 23 juta ton dan ubi kayu 16,3 juta ton pada 2024 (BPS). Namun, meskipun produksinya besar, sekitar 9,8% penduduk Indonesia masih rawan pangan akibat persoalan distribusi dan rendahnya pemanfaatan pangan lokal.

SOLUSI:
Mendorong masyarakat mengolah jagung, ubi, singkong, dan sagu sebagai makanan pokok alternatif. Menyediakan benih unggul, pupuk ramah lingkungan, dan teknologi pertanian modern.
Memberikan akses permodalan melalui koperasi dan lembaga keuangan desa. Membangun infrastruktur desa (gudang, pasar) agar hasil pertanian tidak menumpuk dan bisa tersalurkan dengan baik.

KESIMPULAN:
Ketahanan pangan nasional sesungguhnya berawal dari desa sebagai pusat produksi utama. Desa yang memiliki petani kuat, teknologi pertanian memadai, serta akses pasar yang baik akan mampu menjadi penopang kebutuhan pangan seluruh negeri. Dengan mengoptimalkan produksi lokal, memperbaiki jalur distribusi, dan meningkatkan kesejahteraan petani, kebutuhan pangan masyarakat dapat dipenuhi secara mandiri.

FAJAR DWI BAKTI

Sinopsis "Ketika Mesin Itu Tak Lagi Menyala" Cerita ini mengisahkan Wawan, seorang pengemudi ojek online yang bekerja keras demi i...