Ketahanan pangan merupakan salah satu isu yang menentukan kesejahteraan masyarakat, serta stabilitas sosial dan ekonomi suatu daerah. Di era modern yang penuh dinamika, ketersediaan pangan pokok tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga distribusi, kualitas dan keterjangkauan. Namun, kenyataannya ketahanan pangan di kota batu menghadapi tantangan serius yang perlu segera di tangani.
Alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan wisata dan permukiman terus meningkat. Data dinas pertanian menunjukkan bahwa luas lahan produktif menurun dari tahun ke tahun. Hal ini berpengaruh langsung pada ketersediaan pangan pokok, seperti padi, sayur dan buah-buahan yang selama ini menjadi penopang kebutuhan lokal dan daerah sekitar. Kota batu beresiko semakin bergantung pada pasokan dari daerah lain.
Selain itu, perubahan iklim turut memperburuk situasi pola cuaca yang tidak menentu, curah hujan ekstrim, dan musim kemarau yang panjang mempengaruhi kualitas dan kuantitas hasil pertanian. Tanaman yang sebelumnya tumbuh dengan baik kini lebih rentan terkena hama dan penyakit.
Dengan komitmen yang kuat antara pemerintah, petani, dan masyarakat ketahanan pangan di kota batu dapat terjaga. Pembangunan sektor pariwisata seharusnya dapat berjalan seiring dengan pelestarian lahan pertanian, bukan saling menggantikan. Dengan demikian, kota batu tidak hanya di kenal sebagai kota wisata tetapi juga sebagai kota mandiri dan tanggung dalam memenuhi kebutuhan pangan pokok masyarakat nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar