Sabtu, 18 April 2026

M Adriyan Rafwansyah

Perang Melawan "Si Kumis"
 
Matahari baru saja tenggelam, meninggalkan gradasi warna jingga di pojok barat. Suasana di kolam pancing sudah mulai ramai. Bau amis tanah basah dan aroma umpan racikan khas bercampur menjadi satu, aroma yang sangat akrab bagi para pemancing.
 
"Nah, ini tempat yang pas," sambil meletakkan peralatan pancing dang umpan .
 Malam ini targetku spesial:ikan Lele besar . Bukan lele kecil berbutir , dan disaat itu aku memanjangkan ros stik pancing dan memulai mengukur kedalamam kolam dan 
 Aku mulai meracik umpan. Cacing merah yang segar, dicampur sedikit essen agar aromanya menyebar cepat ke dalam air. Setelah kail terpasang dan pemberat dilempar, plaaak! Umpan mendarat tepat di titik tengah kolam.
 
Waktu bergulir. Jangkrik mulai bersahutan. Beberapa pemancing di sebelah sudah ada yang dapat, meski ukurannya masih kecil-kecil. Aku masih sabar menunggu, mata tak lepas memandangi ujung joran yang melengkung lembut.
 
Tiba-tiba... jlup. jlup.. sentek
 
Pelampung yang tadi tenang-tenang saja, tiba-tiba menyelam cepat dan hilang ditelan kegelapan air. Joranku langsung ditarik keras ke bawah.
 Dengan cepat aku mengangkat joran setinggi bahu. Sensasi getaran langsung terasa sampai ke tulang siku. Ini bukan mainan. Beratnya terasa sekali.
 
"Gedhe iki! Gedhe!" teriak teman di sebelah.
 Aku main tarik ulur. Saat dia menarik kuat, aku biarkan pancing biar dia tidak terlalu memberontak.. Perang tenaga ini berlangsung selama hampir sepuluh menit. Napasku mulai memburu, lengan terasa pegal, tapi adrenalin membuatku tak ingin menyerah.
 
Akhirnya, permukaan air bergejolak. Muncullah punggung hitam legam yang besar, mulutnya melebar, kumisnya panjang bergoyang-goyang. Si Lele akhirnya kalah tenaga dan mulai terbalik.
 Teman sebelah sigap menyodorkan serok. Hap! Ikan seberat hampir dua kilo itu berhasil tertampung.
 
Saat diangkat ke daratan, lele itu masih menggeliat-geliat kuat. Kulitnya licin dan badannya padat berisi. Wajahku otomatis mengembang senyum. Rasa lelah langsung hilang berganti dengan kepuasan luar biasa. Itulah nikmatnya mancing lele rilisan; perjuangannya berat, tapi hasilnya manis.
 
Malam semakin larut, tapi semangat masih membara. Kusiapkan umpan lagi, siap untuk perang berikutnya.
 
 
 
Gimana, kerasa sensasinya gak? 😄 Kalau kamu sendiri tim mancing di kolam atau di alam liar?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

M Adriyan Rafwansyah

Perang Melawan "Si Kumis"   Matahari baru saja tenggelam, meninggalkan gradasi warna jingga di pojok barat. Suasana di kolam panci...