Rabu, 18 Februari 2026

Gadis Shafira cerpen

Bunga kesayanganku dahulu 


Gisha duduk di balkon rumahnya pada sore hari yang tenang, angin sepoi-sepoi membungkus rambutnya yang panjang. Di tangannya, ia memegang buku lama yang penuh kenangan—buku yang berisi orang-orang spesial dalam hidupnya. Dengan hati-hati, ia membuka halaman demi halaman, tersenyum kecil saat melihat foto-foto yang pernah membuatnya bahagia. Tapi, ada satu hal yang menarik perhatiannya: "Bunga kesayanganku dahulu."

Dahi Gisha terdiam sejenak. Kata-kata itu membangkitkan sesuatu yang dalam, seperti debu yang terbangun dari laci lama. Ia mulai teringat tentang seseorang—seseorang yang pernah menjadi bagian penting dari hidupnya. Siapa dia? Dia adalah yang pertama kali mengenalkan apa itu kasih sayang sejati, tanpa syarat, tanpa tuntutan.

Perlahan, Gisha membuka buku itu dengan lembut, pikirannya terbawa kembali ke masa lalu. Halaman-halaman itu bukan sekadar tulisan; mereka adalah jendela ke kenangan yang manis sekaligus pahit. Setelah cukup lama membolak-balik buku itu, ia meletakannya kembali di atas meja. Tapi, ini bukan akhir. Buku yang baru saja ia baca seolah-olah memiliki sihir, membuatnya bertahan lama. Otaknya berkelebat siluet pria itu—wajahnya yang hangat, senyumnya yang selalu membuat hari terasa lebih cerah.

Pikirannya mulai melayang ke masa lalu. Ia ingat hari pertama mereka bertemu, di sebuah sekolahan di pinggir kota, di mana pria itu tak sengaja menabrak kaki perempuan ini ketika memundurkan motornya. Mata mereka saling beradu tatap, seolah-olah menimbulkan atmosfer saling kenal, berujung mereka saling kenal dan akrab. Hari-hari berikutnya penuh dengan tawa, jalan-jalan di taman, bertukar kabar, dan malam-malam berbagi mimpi. Tapi, seperti semua cerita, ada akhir yang tak terduga. Pria itu harus pergi, meninggalkan jejak yang tak bisa dihapus. Cinta mereka tak sampai, seperti bunga yang mekar tapi tak pernah dipetik.

"Di bumi yang luas ini, bertemu denganmu adalah hal yang paling aku syukuri sepanjang hidup," gumam Gisha dalam hati, mengulang kata-kata yang pernah ia tulis di buku itu. "Kau mengajarkan ku bahwa cinta tak selalu selamanya saling memiliki."

Tanpa disadari, pelupuk matanya dipenuhi cairan bening. Saat berkedip, air mata itu meluruh deras, seperti ingatan masa lampau yang tak bisa ditahan lagi. Ia duduk diam, membiarkan kenangan itu membanjiri dirinya.

“Selamat sore, Kisah yang pernah menjadi kasih,” bisiknya pelan, seolah berbicara langsung kepada pria itu. "Kamu apa kabar? Setelah ini, kasih yang pernah saling silang antara kita harus berpisah. Terima kasih sudah menjadikan ku merasakan kasih. Jika awalnya kamu berakhir menjadi kasih tak sampai, setidaknya pada pertemuan selanjutnya, kasihku tersampaikan."

Gisha tersenyum getir, air matanya masih mengalir. "Sungguh terima kasih telah mengenalmu. Itu adalah salah satu anugrah terbesar dalam seumur hidup. Cinta tidak perlu menemukan, tapi cintalah yang menemukan kita."

Sore itu, di balkon rumahnya, Gisha belajar bahwa kenangan adalah bunga yang tak pernah berbaring—meski kadang-kadang, ia menusuk hati. Ia menutup buku itu sekali lagi, tapi kali ini dengan harapan bahwa di suatu tempat, pria itu juga mengingatnya. Dan mungkin, suatu hari, cinta itu akan menemukan jalan kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FAJAR DWI BAKTI

Sinopsis "Ketika Mesin Itu Tak Lagi Menyala" Cerita ini mengisahkan Wawan, seorang pengemudi ojek online yang bekerja keras demi i...