mendaki gunung ijen
Jam di dinding menunjukkan pukul 12 malam. Mataku masih terasa berat, sisa tidur yang dipaksa usai.
"Ayo, bangun! Keburu siang nanti," suara Kakakku memecah hening dini hari.
Aku mengucek mata. Di ruang tamu, adik sepupuku, sudah siap dengan jaket tebalnya. Kami bertiga—Aku, Kakak, dan sepupu ku—memiliki satu tujuan malam ini: menaklukkan Ijen dan melihat api birunya yang tersohor.
Kami berangkat tepat pukul 12 malam. Perjalanan menggunakan mobil memakan waktu 2 jam, meliuk-liuk di jalanan gelap dan sepi menuju pos awal pendakian. Udara dingin langsung menusuk tulang saat kami membuka pintu mobil.
"Sewa alat dulu," biar aman kata Kakakku ke sebuah toko yang penuh dengan perlengkapan pendakian
Kami menyewa masker gas—benda wajib untuk menahan asap belerang—senter kepala, dan beberapa tongkat pendaki agar perjalanan tetap aman. Setelah perlengkapan lengkap, kami bergegas menuju loket tiket.
Di sinilah langkah kami terhenti.
Pukul 1 dini hari, dan antrean tiket sudah mengular panjangnya. Puluhan, mungkin ratusan .
orang, berbaris rapat dalam gelap, sama-sama menggigil kedinginan. perjalanan mendaki 2 jam paling cepat 1 jam.
"Ayo, cepat! Kita sudah kehilangan banyak waktu!
Kami pun memulai pendakian.
Jalur pendakian Ijen di malam hari adalah tantangan tersendiri. Gelap pekat di luar lingkaran cahaya senter kami. Tanjakannya stabil
"Normalnya 2 jam," kataku, terengah-engah. "Paling cepat satu jam kalau lari."
Kami mencoba mempercepat langkah. Kaki terasa berat, tapi bayangan api biru di dasar kawah terus memompa semangat. Kami berpacu dengan pendaki lain, berpacu dengan dingin, dan yang paling penting, berpacu dengan waktu.
Setelah perjuangan yang terasa seperti lamanya, kami akhirnya tiba di kawah.ijen Napas kami tersengal.
"Kak... lihat," ujarku pelan.
Kami menunduk ke dasar kawah, tempat api biru seharusnya menyala dahsyat. Tidak ada. Yang terlihat hanya kepulan asap belerang yang pekat, diterangi sisa-sisa kegelapan.
Kami kesiangan.
Api biru yang magis itu sudah padam, ditelan oleh fajar yang datang terlalu cepat.
Aku tampak kecewa.
Kami bertiga terdiam. Lelah pendakian seketika terasa dua kali lipat. Penyebabnya jelas: satu jam berharga yang kami habiskan di antrean tiket tadi adalah waktu emas yang seharusnya kami gunakan untuk turun ke kawah.
Kami gagal melihat api biru.
Tapi saat matahari akhirnya terbit, kekecewaan itu sedikit terobati. Danau kawah Ijen yang berwarna toska sureal perlahan muncul dari balik kabut. Pemandangan matahari terbit di atap Jawa Timur itu begitu agung.
"Tidak apa-apa," kata Kakakku sambil menepuk pundakku. "Kita tidak dapat apinya, tapi kita dapat mataharinya. Nanti kita ke sini lagi, tapi harus berangkat lebih malam."
Aku mengangguk. Ijen telah memberi kami pelajaran: keindahan itu tak mau menunggu, bahkan hanya karena antrean tiket yang panjang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar