Selasa, 18 November 2025

minhatus saniyyah

 Penyesalan di Penghujung Semester


Pukul sebelas malam, dan lampu belajar di kamarku masih padam. Bukan karena aku sudah selesai belajar, melainkan karena aku memilih untuk tidak memulainya sama sekali.

Di atas meja belajarku, buku-buku tebal mata pelajaran Kimia dan Fisika masih terlihat rapi, menjadi alas untuk handphoneku. Sementara di layar, video-video tiktok terbaru terus bergulir, menahan mata ku agar tak beralih sedikit pun.

“Ah, besok juga sempat,” ucapku, sambil menarik selimut lebih tinggi. “Ujian masih minggu depan. Semalam suntuk juga cukup buat ngebut.”

“Ngebut” yang ku maksud adalah membuka buku sepuluh menit sebelum tidur, atau sekadar membaca rangkuman saat sarapan. Bagiku, ada yang jauh lebih penting dari rumus-rumus rumit yaitu scroll tiktok.

Waktu berlari kencang tanpaku sadari. Malam berganti pagi, minggu berganti minggu. Saat teman-teman ku sibuk berdiskusi soal deret aritmatika dan hukum Newton,aku hanya mengangguk pura-pura paham, sambil diam-diam menghitung sisa kuota internetku.

Tiba-tiba, hari yang paling aku takuti datang yaitu Ujian Akhir Semester.

Hari pertama ujian, mata pelajaran Kimia. Aku membuka lembar soal dengan percaya diri yang dipaksakan. Namun, saat mataku menyapu barisan pertanyaan, tubuh ku merasa sangat dingin.

Soal nomor satu yaitu menghitung pH larutan. aku hanya ingat samar-samar ada angka 14 dan logaritma, tapi detail rumusnya hilang sepenuhnya. Soal nomor tiga itu reaksi redoks. Istilah itu terasa asing, padahal aku tahu persis itu ada di bab yang aku lewati karena terlalu banyak rumus.

Keringat dingin membasahi tubuhku. Pandanganku beralih ke deretan kursi di depanku. Mereka tampak lancar menulis, sesekali berpikir, tapi tak ada satu pun yang tampak bingung seperti diriku.

Aku menoleh ke belakang, ke tas sekolahku yang berisi buku-buku yang tak tersentuh. Buku Kimia itu seolah mengejekku dengan sampulnya yang bersih dan isinya yang rapi karena tak pernah diberi tanda stabilo, tak pernah diisi catatan pinggir.

Jantungku berdebar kencang. Ini bukan sekadar lupa ini adalah kosong. Aku tidak tahu. Dan rasa tak tahu itu membawaku pada satu kesadaran pahit selama ini, aku telah menyia-nyiakan waktu belajar yang begitu berharga.

Setelah bel tanda waktu habis berbunyi, aku berjalan keluar ruangan dengan langkah yang terasa berat. Aku melihat teman-temanku berdiskusi soal jawaban dan prediksi nilai, namun aku hanya bisa berjalan menjauh, malu mengakui bahwa aku hanya mengisi seperempat lembar jawaban.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku duduk di meja belajarku. Aku bukan sedang scroll tiktok, melainkan menatap lembar jawaban kosong yang aku bawa pulang.

aku ingat ketika ibuku sering mengingatkan, “Nak, jangan tunda pekerjaanmu. Belajar itu seperti menabung. Kalau kamu nabungnya sedikit-sedikit dan teratur, saat kamu butuh banyak, kamu punya simpanannya.”

Kini, aku merasa bangkrut. Tabungan ilmuku nol.

Rasa penyesalan itu menusukku lebih tajam dari jarum. Penyesalan bukan hanya karena nilaiku akan buruk, tapi karena aku tahu aku bisa melakukan yang lebih baik. Aku menyesal telah menukar jam-jam berharga untuk belajar dengan kesenangan sesaat di dunia maya.

aku memejamkan mata, memegang buku Kimia itu erat-erat.

“Aku menyesal,” ucapku pelan, kepada buku yang baru kini aku anggap penting.

Mulai malam itu, aku bertekad. Bukan untuk mengejar ketinggalan di sisa ujian yang ada karena aku tahu itu tidak mungkin tapi untuk membangun kebiasaan baru. Kebiasaan menabung ilmu sedikit demi sedikit, agar penyesalan yang begitu perih di penghujung semester ini tidak perlu terulang lagi di masa depan.

Aku menyalakan lampu belajar, membuka bab pertama, dan mulai membaca. Malam itu, aku tidak scroll tiktok seperti biasanya melainkan mengejar ketinggalan diriku sendiri. Karena aku tahu, penyesalan terbaik adalah penyesalan yang menghasilkan perubahan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

almira arrulia

  Sinopsis Cerpen: "Jingga di Antara Sisa Abu dan Malioboro" Cerita ini merajut kenangan perjalanan sekelompok siswa menuju Yogyak...