Selasa, 18 November 2025

M. RAIHAN SYA'RONI

JANJI DI UJUNG HARAPAN

Kadek dan Ciena pertama kali bertemu ketika mereka masih bocah kecil di sebuah lingkungan sederhana di Kota Malang. Hari-hari mereka penuh suara tawa, rebutan ayunan, lari-lari di gang kecil, dan petualangan kecil yang hanya bisa dimengerti oleh dua sahabat yang merasa dunia milik berdua

Kadek tumbuh sebagai anak yang pendiam tapi hangat, sementara Ciena penuh cahaya dan selalu bisa membuat suasana hidup. Mereka adalah dua potongan puzzle yang sejak kecil selalu bersama 

Namun kenyataan tidak selamanya lembut...

Memasuki SMP, mereka harus berpisah.

Ciena memutuskan untuk mondok di Dampit, sedangkan Kadek tetap melanjutkan sekolahnya di Malang
Awalnya mereka masih mencoba bertahan. Kadek selalu menunggu waktu Ciena bisa memegang HP, walaupun cuma beberapa menit. Ciena pun selalu berusaha membalas pesan Kadek walau kadang hanya dengan kata:

“Aku kangen"

Namun jadwal mondok semakin padat.
Hari demi hari, pesan yang dulu hangat berubah menjadi sunyi.
Sampai akhirnya, mereka tidak benar-benar berpisah…Mereka merindukan—tapi sama-sama diam.

SMA datang, dan perpisahan makin jauh.

Setelah keluar dari pesantren, hidup membawa Ciena jauh lebih jauh dari sebelumnya.
ia ikut orang tuanya pindah ke Kalimantan dan melanjutkan SMA di sana, Sementara Kadek tetap di Malang, tetap dengan kenangan masa kecil yang sulit ia lupakan

Kini, mereka tidak hanya terpisah kota—tapi dipisahkan laut, waktu, dan kebiasaan yang berbeda.
Namun suatu malam, dengan keberanian yang lama terpendam, Kadek membuka ruang chat lama:

“Ciena… kamu masih inget aku, kan?”

Pesan itu dikirim dengan tangan bergetar.
Dan jauh di Kalimantan sana, setelah beberapa menit yang terasa seperti seabad, muncul balasan:

“Kadek… aku inget semuanya"

Dari situ, hubungan mereka kembali merayap pelan-pelan. Tidak terburu-buru. Tidak memaksa. Tapi seperti menemukan jalan pulang yang sudah lama tertutup

Kadek tahu satu hal:
Dia tidak ingin hubungan itu hanya berhenti di layar lagi.

Maka liburan semester tiba, dan Kadek melakukan hal gila-gilaan paling nekat dalam hidupnya,ia menabung berbulan-bulan, ia bekerja sampingan bantu warung tetangga, hanya untuk satu tujuan:

 bertemu Ciena.

Dan pada hari itu, Kadek berdiri di bandara dengan tas kecil di punggung, hati yang berdebar, dan tiket menuju Kalimantan di genggaman

Perjalanan itu panjang, tapi tidak ada satu pun detik yang membuatnya ragu

Setibanya di sana, ia turun dari pesawat, menyusuri bandara dengan langkah gemetar, hingga akhirnya ia melihat seseorang berdiri sambil memegang ujung baju karena gugup, yaitu..

Ciena.

Matanya langsung berkaca-kaca begitu melihat Kadek berjalan mendekat
“Kadek… kamu beneran datang?” suaranya serak

Kadek menghela napas lega, lalu tersenyum kecil

“Aku janji kan? Kita nggak boleh hilang lagi"

Ciena menutup mulutnya sambil menangis, lalu 
memeluknya lama—seakan takut waktu akan merebut momen itu darinya

Hari itu mereka menghabiskan waktu menjelajahi kota di Kalimantan, makan di tepi sungai, tertawa, dan berbicara tentang segala hal yang dulu tidak sempat mereka ceritakan, Dan di tempat yang jauh dari Malang, jauh dari kenangan masa kecil mereka, justru hati mereka kembali bertemu

Senja pun jatuh.
Dan janji itu datang.
Bukan janji untuk berpacaran.
Bukan janji klise ala remaja.
Tapi janji dua hati yang pernah saling kehilangan dan tak ingin mengulanginya:

“Walau kita beda pulau, beda waktu, beda dunia sementara…tapi kita bakal saling jagain mimpi, Kita bakal saling dukung, sampai suatu hari nanti, kita ketemu di titik yang sama"

Ciena menggenggam tangan Kadek erat.

Kadek tersenyum sambil menatap langit yang berwarna jingga

Jarak memang memisahkan tubuh, tapi tidak pernah berhasil memisahkan rasa,Karena rasa itu sudah tumbuh sejak mereka kecil—dan cinta yang tumbuh dari persahabatan selalu menemukan caranya sendiri untuk kembali

--TAMAT--

Struktur Interistik Cerita

1. Tema
Cinta yang lahir dari persahabatan masa kecil di Malang dan diuji oleh jarak antar pulau

2. Tokoh
Kadek: setia, hangat, pemberani, penuh tekad
Ciena: lembut, sensitif, kuat, penuh kerinduan

3. Alur
Campuran (maju dengan kilas balik): masa kecil → SMP mondok → SMA pindah ke Kalimantan → pertemuan kembali

4. Latar
Tempat: Malang (masa kecil), Dampit (mondok), Kalimantan (SMA), bandara
Waktu: masa kecil hingga remaja
Suasana: romantis, emosional, hangat

5. Sudut Pandang
Orang ketiga

6. Amanat
Jarak tidak pernah benar-benar mengalahkan dua hati yang saling memilih. Selama ada usaha dan keberanian, hubungan apa pun bisa kembali menemukan jalannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

almira arrulia

  Sinopsis Cerpen: "Jingga di Antara Sisa Abu dan Malioboro" Cerita ini merajut kenangan perjalanan sekelompok siswa menuju Yogyak...