Kamis, 25 September 2025
ZIDNY ALFIYAN
Senin, 22 September 2025
FAJAR DWI BAKTI
DEWI IZZATUL MUFIDAH
VICA ADYANISA
Rabu, 17 September 2025
SAZKIA FATIMATUS ZAHRA
Senin, 15 September 2025
KHOIRUNNISA ILUTFIYYAH
Kenaikan Harga Apel di Nongkojajar dan Dampaknya bagi petani
Dalam beberapa minggu terakhir harga apel di Nongkojajar ,Pasuruan mengalami kenaikan cukup signifikan .Dari semula sekitar Rp.2.500 per kilogram ,kini harganya bisa mencapai Rp.4000 per kilogram.Sekilas hal ini menguntungkan petani,namun jika di teliti lebih jauh ada faktor penyebab yang perlu di perhatikan,mulai dari kondisi cuaca serangan hama hingga persaingan dengan buah lain.Maka kenaikan harga ini tidak bisa dipandang hanya sebagai .kabar baik tetapi juga sebagai peringatan tentang masalah produksi yang harus segera diatasi.
Produksi menurun karena musim hujan dan hama,Menurut keterangan salah satu petani ,Basori dari Desa Andonosari,musim hujan yang terlalu lembab membuat pohon apel mudah terkena kutu batok.Serangan hama ini mengakibatkan daun rusak dan buah tidak tumbauh sempurna.Akibatnya apel yang di panen banyak yang bercak merah bahkan ada yang busuk .Produksi yang turun inilah yang menyebabkan harga naik karena barang semakin terbatas.Hal ini menunjukkn Bahwa masalah cuaca dan hama adalah penyebab utama bukan dari pedagang.
Persaingan dengan buah musiman selain faktor produksi ,harga apel yang di pengaruhi oleh ketersediaan buah lain. Saat musim mangga melimpah , perminataan apel menurun karena masyarakat lebih memilih mangga yang segar dan murah. Namun ketika mangga sudah habis konsumen kembali membeli apel ,sehingga permintaan naik . Kondisi ini ikut mendorong kenaikan harga apel di pasaran . Jadi harga buah lokal memang saling terkait satu sama lain .
Dampak sosial ekonomi
Kenaikan harga tentu memberi angin segar bagi petani apalagi sempat terpuruk di harga rendah .Namun bila kuwalitas buah tetap rendah karena serangan hama reputasi apel lokal bisa turun di mata pembeli .Bagi konsumen harga yang baik terlau tinggi juga bisa menjadi beban ,apalagi untuk keluarga dengan penghasilan terbatas .Di sisi lain pengepul sering mengemas apel Nongkojajar dengan label “Apel Batu”untuk di jual lebih mahal karena itulah menimbulkan pertanyaan tentang keadilan dalam kegiatan distribusi.
Ada anggapan bahwa kenaikan harga hanya karena permainan. Namun kenyataannya penurunan produksi akibat hama dan cuaca lembab adalah penyebab nyata. Jika masalah dasar ini segera di atasi, harga apel akan terus berfluktuasi dan merugikan semua pihak dalam jangka panjang.
Kesimpulannya yaitu,Kenaikan harga apel di Nongkojajar memang memberi keuntungan sesaat bagi petani ,tetapi sekaligus menunjukkan lemahnya produksi akibat seragan hama dan ketergantungan pada kondisi cuaca . Pemerintah daerah perlu turun tangan dengan memberi penyuluhan bantuan pestisida ramah lingkungan ,serta dukungan agar petani bisa mengurangi dampak musim hujan .Dengan begitu apel Nongkojajar tetap bisa bersaing di pasaran tanpa membebani konsumen dan keber lanjutan pertanian lokal bisa terjaga.
Sumber : Jatim Antara,”Harga Apel di Nongkojajar Beranjak Naik “(2023)
MINHATUS SANIYYAH
Minggu, 14 September 2025
ZAHRA AULIYA
Kamis, 11 September 2025
M RAIHAN SYA'RONI
Rabu, 10 September 2025
FAHRI MARZUKI
Mengapa Malang Harus Mempertahankan Pangan Lokal Untuk MenjaminKetahanan Masa Depan?
Ketahanan pangan merupakan fondasi penting bagi kehidupan Masyarakat. Kota Malang denganpotensi pertaniannya yang besar, wajib menjadikan pangan lokal sebagai prioritas utama.Memprioritaskan pangan lokal bukan hanya menjawab kebutuhan dasar Masyarakat, tetapi jugaberfungsi sebagai strategi mempertahankan kemandirian daerah di tengah derasnya arus globalisasi.
Pertama, ketergantungan terhadap impor pangan sangat tinggi dan menjadi ancaman nyata bagiketahanan pangan nasioanl. Beberapa komoditas penting, seperti kedelai (80-90%), gula pasir (65-70%), dan bawang putih (90-95%), masih didatangkan dari luar negeri. Ketergantungan inimengindikasikan kerentanan pangan yang serius. Dengan mengoptimalkan pangan lokal sepertisayuran dataran tinggi, umbi-umbian, serta apel dan sayuran khas Kota Malang ini dapat mengurangirisiko fluktuasi harga dan kelangkaan pasokan akibat gangguan global.
Kedua, memperkuat konsumsi dan produksi pangan lokal adalah langkah untuk mendukungkesejahteraan petani dan memperkuat ekonomi daerah. Kebijakan pro-petani, infrastruktur pertanianyang memadai, serta diversifikasi pangan lokal merupakan kunci menuju kedaulatan pangan. KetikaMasyarakat Malang memilih produk lokal, petani mendapatkan kepastian harga pasar sehinggaekonomi di tingkat desa hingga kota dapat bergerak lebih dinamis dan resilien terhadap gejolakpangan.
Ketiga, ketergantungan pangan membuka pintu intervensi asing dan melemahkan kemerdekaanbangsa. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa “tidak ada negara kuat yang tidak mampumemproduksi pangannya sendiri” dan menegaskan bahwa ketergantungan terhadap impor justrumembuka celah intervensi asing. Dengan demikian, Malang sebagai bagian dari bangs aini, berperandalam memperkokoh ketahanan nasional dengan menjaga produksi pangan lokalnya. Diversifikasipangan lokal bukan hanya soal mempertahankan kedaulatan.
Dengan demikian, sudah sangat jelas bahwa Kota Malang harus mengutamakan pangan lokalsebagai jalan untuk menjamin ketahanan pangan dan masa depan. Prioritas ini bukan sekedarmengenai pemenuhan kebutuhan konsumsi sehari-hari, tetapi tentang mempertahankan kemandirianekonomi, memperkuat kesejahteraan petani, dan melindungi wilayah dari rentannya gangguanpasokan global. Mempertahankan pangan lokal bukan pilihan pragmatis semata, melainkan sebuahstrategi berkelanjutan agar Malang tetap Tangguh, mandiri, dan berdaya dalam menghadapi masayang akan datang
NAJLA MUTIA JALILAH M.E
Apakah Kota Malang Masih Mampu Menjaga KetahananPangan Lokal di Era Globalisasi?
Kota Malang dikenal sebagai salah satu daerah subur di Jawa Timur dengan potensi pertanianyang beragam, mulai dari sayur-mayur, apel, hingga umbi-umbian. Kekayaan ini sudah sejak lamamenopang kebutuhan pangan masyarakat lokal maupun luar daerah. Dengan modal alam tersebut,seharusnya Malang mampu menjadi daerah mandiri dalam menjaga ketahanan pangan lokalnya,meskipun kini menghadapi tekanan globalisasi.
Globalisasi menghadirkan tantangan yang tidak ringan. Urbanisasi, industrialisasi, serta perubahanpola konsumsi masyarakat semakin nyata terasa dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan punmuncul: mampukah Kota Malang tetap menjaga kemandirian pangannya di tengah arus globalisasiyang deras?.
Potensi pertanian Malang tidak bisa dianggap remeh, produk unggulan seperti apel Malang dankentang dataran tinggi telah dikenal secara nasional bahkan menjadi identitas khas daerah ini.Kondisi tanah yang subur serta iklim yang mendukung menjadikan sektor pertanian Malangmemiliki modal kuat untuk menopang kebutuhan pangan daerah dan berkontribusi bagi kemandirianbangsa.
Namun, potensi besar tersebut diiringi tantangan serius berupa alih fungsi lahan. Penelitianmenunjukkan bahwa di Kecamatan Karangploso, lahan sawah irigasi berkurang 60,7 hektare danladang seluas 0,93 hektare pada 2010–2013 akibat urbanisasi dan pembangunan perumahan. Jika halini terus berlanjut, maka ketersediaan lahan pertanian produktif akan semakin menurun. Padaakhirnya, produksi pangan lokal pun akan terancam menurun dan mengurangi kemandirian daerah.
Selain masalah lahan, pola konsumsi masyarakat juga dipengaruhi globalisasi. Generasi mudacenderung lebih memilih makanan instan dan produk impor yang dianggap lebih praktis. Fenomenaini mengurangi apresiasi terhadap produk lokal seperti sayuran, umbi, dan buah khas Malang. Jikapola ini tidak dikendalikan, maka pasar bagi hasil pertanian lokal bisa semakin menyusut sehinggapetani kehilangan motivasi untuk bertahan.
Meski begitu, Malang memiliki peluang besar melalui pengembangan urban farming. PemerintahKota Malang mencatat bahwa lahan pertanian konvensional kini hanya sekitar 800 hektare, denganproduksi beras ±15.852 ton per tahun. Untuk menutupi keterbatasan lahan, urban farmingdikembangkan hingga tingkat RT/RW dengan sistem tanam sayur, ikan, dan ternak di lahan terbatas.Langkah ini memberi harapan baru bahwa pangan lokal tetap bisa dijaga di tengah keterbatasanruang kota.
Pemerintah juga memberikan dukungan kebijakan berupa perlindungan lahan pertanian produktif,bantuan alat mesin, irigasi, benih unggul, hingga potongan pajak bumi bangunan untuk petani. umlahkelompok urban farming pun meningkat dari 112 kelompok pada 2024 menjadi 115 kelompok pada2025. Fakta ini menunjukkan adanya komitmen pemerintah daerah dan masyarakat untuk bekerjasama menjaga ketahanan pangan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat ditegaskan bahwa Kota Malang masih memiliki peluang besaruntuk menjaga ketahanan pangan lokal meskipun globalisasi membawa banyak tantangan. Potensialam yang subur, inovasi pertanian perkotaan, dan dukungan kebijakan memberi dasar kuat untuktetap mandiri dalam pangan.
Namun, hal itu hanya bisa tercapai jika pembangunan kota berjalan seimbang dengan perlindunganlahan dan keberpihakan pada petani lokal. Masyarakat juga harus ikut serta dengan mengonsumsiproduk lokal sebagai bentuk dukungan nyata terhadap kemandirian pangan. Oleh karena itu, menjagaketahanan pangan Malang di era globalisasi adalah tanggung jawab bersama demi mewujudkanbangsa yang tangguh dan mandiri.
RIFKI ANDI ALDIANSYAH
FAJAR DWI BAKTI
Sinopsis "Ketika Mesin Itu Tak Lagi Menyala" Cerita ini mengisahkan Wawan, seorang pengemudi ojek online yang bekerja keras demi i...
-
PENTINGNYA PANGAN LOKAL UNTUK HIDUP SEHAT PENDAPAT: Di era modern ini, pola konsumsi masyarakat cenderung bergeser ke arah makan...
-
Sinopsis Cerpen: "Aroma Sup Hangat Di Malam Minggu " Cerita ini membawa pembaca kembali ke tahun 2020, sebuah masa yang dingin da...
-
M.RIFKY ANDI ALDIANSYAH (XI-3) Sinopsis: Mencari Cahaya Dalam Lorong Cerita ini mengisahkan tentang (Andi), seorang siswa di MA Al Maarif S...